Minggu, 26 Desember 2010

SUKSES MENUJU SUKSES

Pada akhir tahun 2010 Bangsa Indonesia mengalami kegembiraan yang “dosisnya” relatif tinggi. Hal ini dikarenakan Tim Nasional Indonesia berhasil masuk final Piala AFF (ASEAN Football Federation) Tahun 2010. Meskipun pada Minggu malam Tim Indonesia dikalahkan oleh Tim Malaysia dengan 3 - 0 di Stadion Bukit Jalil - Malaysia, namun Bangsa Indonesia tetap bergembira dan menyayangi Tim Indonesia. Kegembiraan Bangsa Indonesia ini sesungguhnya menunjukkan sikap Bangsa Indonesia yang merindukan prestasi.


Adalah fitrah, bahwa setiap bangsa, setiap masyarakat, setiap kelompok, dan setiap manusia merindukan prestasi. Prestasi adalah keberhasilan gilang gemilang yang diwujudkan oleh suatu bangsa, suatu masyarakat, suatu kelompok, dan seorang manusia, di mana yang bersangkutan berhasil mewujudkan visi (cita-cita) dan misinya (kegiatan utamanya) di dunia. Dalam konteks ini, maka prestasi identik dengan kesuksesan.


“Sukses” haruslah dimaknai dengan tepat, karena beberapa orang seringkali keliru dalam memaknai “sukses”. Apabila kurang berhati-hati dalam memaknai “sukses”, seseorang dapat terjebak pada makna palsu. Dalam maknanya yang palsu, “sukses” seringkali dimaknai sebagai keberhasilan seseorang dalam mengumpulkan harta, mencapai peringkat tertinggi dalam hal pangkat, jabatan, dan gelar (sosial dan akademik), serta mampu membangun keluarga dalam jumlah anggota yang relatif besar.


Sesungguhnya makna “sukses” tidaklah sesempit itu. Sesungguhnya makna “sukses” sangat esensial, bersifat saripati atau bersifat intisari. “Sukses” sesungguhnya, atau sukses yang sebenar-benarnya sukses, adalah ketika seseorang mampu melakukan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal kepada orang lain dan lingkungannya.


Oleh karena “sukses” dapat dimaknai dengan benar (sesungguhnya) dan dapat pula dimaknai secara keliru (salah), maka setiap orang perlu berikhtiar untuk sukses (berhasil) dalam memilih makna “sukses” yang benar, atau sukses yang sesungguh-sungguhnya sukses. Dengan kata lain setiap orang harus sukses dalam memaknai “sukses”. Setelah berhasil memaknai “sukses” dengan sukses (benar), maka ia akan mengetahui adanya “jalan” yang berbeda dalam mencapai sukses semu (salah atau keliru) dengan sukses sesungguhnya (benar atau tepat). Hal ini berarti setiap orang harus sukses memilih “jalan” menuju sukses. Dengan kata lain setiap orang perlu SMS (Sukses Menuju Sukses).


Contoh orang yang berada pada posisi sukses menuju sukses adalah Abdullah Gymnastiar. Ia adalah seorang kiai yang memimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Sejak muda Abdullah Gymnastiar telah gemar beribadah kepada Allah SWT dan gemar memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Dalam konteks ”memberi manfaat” sejak muda Abdullah Gymnastiar telah gemar berbisnis. Telah banyak bidang bisnis yang digelutinya, seperti: buku, handicraft, konveksi, mie bakso, dan lain-lain.


Visinya dalam membangun Pondok Pesantren Daarut Tauhid, yaitu menyatukan antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Pertama, dimensi dzikir menekankan keikhlasan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Kedua, dimensi fikir menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan keseharian seseorang, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Ketiga, dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhan dan kerja keras tanpa kenal putus asa.


Menurut Abdullah Gymnastiar, “Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”

Sabtu, 18 Desember 2010

SEBAIK - BAIK PUAS DIRI

Ada seseorang yang melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya, namun adapula seseorang yang melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya. Dalam kedua kondisi ini, ketika seseorang telah berhasil melakukannya, maka orang tersebut akan merasa puas.


Dengan demikian, puas dapat terjadi karena telah melakukan sesuatu yang ingin dilakukan, dan dapat pula terjadi karena telah melakukan sesuatu yang perlu dilakukan. Kata kunci yang menjadi penentu nilai puas adalah “ingin” dan “perlu”.


Dengan demikian ada dua peluang dalam konteks puas, yaitu: Pertama, puas akan memiliki nilai yang baik, bila seseorang melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya. Suatu “tindakan yang perlu dilakukan”, adalah sesuatu tindakan yang akan menjadikan kualitas hidup seseorang lebih baik.


Kedua, puas akan memiliki nilai yang kurang baik, bila seseorang melakukan sesuatu hanya karena ia ingin melakukannya. Suatu “tindakan yang ingin dilakukan”, adalah sesuatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi hasrat seseorang.


Seseorang boleh saja melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya, sepanjang keinginannya itu dalam rangka memenuhi tuntutan keharusan, untuk melakukan sesuatu yang perlu baginya. Dengan kata lain, “keinginan” akan dapat diarahkan ke posisi yang lebih baik, bila ia dicerahkan oleh “keperluan” (kebutuhan) untuk melakukan sesuatu.


Seseorang yang telah melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya, atau karena keinginan untuk melakukan sesuatu didorong oleh perlunya sesuatu dilakukan, berpeluang puas diri. Oleh karena berbasis pada keperluan atau kebutuhan untuk melakukan sesuatu, maka puas diri semacam ini dibolehkan. Inilah sebaik-baik puas diri yang memungkinkan untuk diekspresikan oleh seseorang.


Oleh karena basis puas diri adalah keperluan, maka perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh keperluan yang sungguh-sungguh diperlukan seseorang. Untuk itu seseorang perlu melakukan inventarisasi keperluannya. Hal ini akan membantunya dalam mengenali bentuk atau jenis keperluannya.


Selain itu juga perlu dipertimbangkan alasan atau penyebab suatu tindakan dikategorisasi sebagai keperluan dirinya. Selanjutnya, yang juga penting adalah mempertimbangkan cara mewujudkan atau mengekspresikan tindakan yang diperlukan.


Sebagai contoh, dapat diamati sikap Bill Gates dan Paul Allen. Pada tahun 1975 mereka menyiapkan software sekolah mereka, yang kemudian menjadi awal mula bagi mereka dalam membuat software komputer.


Pengalaman ini kemudian mendorong Bill Gates dan Paul Allen mendirikan Microsoft, yang pada awal berdirinya diabaikan orang. Pada tahun 1990-an, barulah Microsoft berhasil menguasai pasar software komputer. Akibatnya, Bill Gates dan Paul Allen menjadi orang terkenal, dan terdaftar sebagai milyuner.


Demikianlah, sikap harus memutuskan tindakan yang perlu dilakukan seseorang, untuk selanjutnya dieksekusi dengan melakukan tindakan yang perlu tersebut. Setelah itu, seseorang layak puas diri, sambil terus memperbaiki diri, agar lebih puas lagi, demikian seterusnya hingga tak terhingga. Inilah sebaik-baik puas diri.

Jumat, 17 Desember 2010

Senin, 13 Desember 2010

MENDORONG SADAR DIRI

Seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, hendaklah berkenan menjelajah lingkungan sekitarnya, dan lingkungan yang lebih luas lagi. Saat itulah, ia sedang bergerak membangun pengetahuannya. Sesungguhnya kondisi inilah yang dilakukan di sekolah, kampus, atau pesantren.


Sekolah, kampus, atau pesantren merupakan institusi (organisasi atau lembaga) yang bertugas memprovokasi (mendorong berpikir) pelajar, mahasiswa, atau santri untuk membangun pengetahuan. Guru, dosen, atau ustadz mendorong pelajar, mahasiswa, atau santri untuk mengerti, bahwa kebenaran versi manusia tidaklah tunggal. Contoh, 2 + 5 tidaklah selalu sama dengan 7, karena 2 + 5 dapat saja sama dengan 3 + 4, 1 + 6, dan seterusnya.


Setelah menjelajah lingkungannya, maka seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya akan mengerti, bahwa kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan tidaklah selalu mampu mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan tidak akan bermakna, bila kesemuanya itu dilakukan untuk melakukan keburukan.


Bila kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan dilakukan untuk melakukan keburukan, maka hal ini tidaklah hanya merugikan orang lain, melainkan juga merugikan dirinya sendiri. Dengan kata lain bila kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan dilakukan oleh seseorang untuk melakukan keburukan, maka sesungguhnya ia sedang menganiaya dirinya sendiri dan orang lain.


Oleh karena itu, seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, hendaklah mampu melakukan: Pertama, persuade, yaitu membuat dirinya dan orang lain setuju untuk melakukan sesuatu, dengan menyampaikan kepada diri sendiri dan orang lain banyak hal tentang sesuatu. Untuk mencapai hal ini, maka seseorang harus mengerti tentang definisi dari tindakan yang diinginkan. Misal, dirinya dan orang lain sedang diprovokasi untuk gemar membaca, maka ia harus mengerti definisi membaca. Selanjutnya juga perlu dicermati tentang: (1) waktu atau saat membaca yang dianggap perlu dilakukan, (2) tempat atau lokasi membaca yang paling ideal, (3) penyebab pentingnya membaca, dan (4) cara membaca yang paling efektif dan efisien.


Kedua, cause, yaitu dirinya dan orang lain yang mampu membuat sesuatu terjadi, alasan (reason) untuk berperilaku tertentu, serta tujuan yang diyakini dan sedang diperjuangkannya. Untuk mencapai hal ini, maka seseorang harus membantu dirinya dan orang lain agar mampu membuat sesuatu terjadi. Selain itu, ia juga harus menjelaskan alasan pada dirinya dan orang lain tentang pentingnya sesuatu terjadi. Sesudah itu, ia juga harus menunjukkan relasi (hubungan) antara tindakan yang dilakukan oleh dirinya dan orang lain dengan tujuan yang diyakini, dan sedang diperjuangkan oleh dirinya dan orang lain.


Apabila seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, telah melakukan persuade dan cause, maka saat itu ia telah mendorong sadar diri bagi dirinya dan orang lain. Persuade dan cause yang dilakukan dengan sangat ”halus” akan menghasilkan suatu tindakan, kondisi, atau situasi tertentu yang seolah-olah ”otomatis” (niscaya), meskipun sesungguhnya ia dibangun melalui proses developing kesadaran, yang seringkali juga disebut sebagai ”induced”.

Senin, 06 Desember 2010

SELAMAT TAHUN BARU 1432 HIJRIAH

Para pembaca blog yang dimuliakan Tuhan, pada tanggal 7 Desember 2010 sahabat-sahabat kita yang beragama Islam sedang bahagia hatinya. Tanggal 7 Desember 2010 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1432 Hijriah, di mana sahabat-sahabat kita yang beragama Islam sedang mensyukuri datangnya tahun baru 1432 Hijriah.


Momentum ini, sebagaimana momentum tahun baru pada umumnya, memiliki makna hijrah atau berpindah dari situasi dan kondisi yang lama (sebelumnya) ke situasi dan kondisi yang baru (saat ini). Kepindahan ini berarti perubahan, yaitu berubah menjadi sesuatu yang lebih baik.


Momentum 1432 Hijriah hendaklah dapat menjadi pendorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik, misalnya dengan: Pertama, hidup lebih efisien, agar hidup makin ringan. Kedua, hidup makin adaptif (dalam kebaikan), agar semakin mudah diterima oleh lingkungan. Ketiga, hidup makin gigih, agar semakin banyak revenue (penghasilan) yang dapat ditabung. Keempat, hidup lebih bahagia, agar kebahagiaan yang dialami mampu mendorong orang lain untuk turut bahagia. Kelima, hidup lebih semangat, agar hidup semakin produktif.


Sudah saatnya momentum 1432 Hijriah mendorong setiap pribadi unggul untuk mempersiapkan diri, dalam menghadapi dinamika sosial. Lakukan perubahan yang mampu mengantisipasi “gelombang” kehidupan, yang kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang rendah. Pelajari segenap peluang yang ada, dan siapkan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan dalam menghadapinya.


Sudah saatnya momentum 1432 Hijriah mendorong setiap pribadi unggul untuk mempersiapkan diri, dalam menghadapi dinamika sosial. Lakukan perubahan responsif, yang mampu memberi reaksi yang proporsional, terhadap dinamika sosial. Respon setiap “tanda” kehidupan dengan cermat, dan jangan pernah mengabaikan “tanda-tanda” kehidupan, karena akan mengakibatkan lemahnya respon yang diberikan.


Sudah saatnya momentum 1432 Hijriah mendorong setiap pribadi unggul untuk mempersiapkan diri, dalam menghadapi dinamika sosial. Lakukan perubahan yang mampu mengatasi krisis, dan jangan terjebak dalam krisis. Tidak penting menyesali terjadinya krisis (lokal, regional, nasional, maupun global), melainkan adalah lebih penting untuk berupaya mengatasinya. Boleh jadi ikhtiar yang dilakukan pada awalnya nampak kecil, tetapi dengan kegigihan dan semangat yang tinggi maka lambat laun ikhtiar itu akan semakin besar dampak solusinya.


Demikianlah seharusnya hidup, demikianlah seharusnya mensikapi tahun baru, dan demikianlah seharusnya menjalani hidup dari hari ke hari. Hiduplah lebih baik, dan berubahlah menjadi lebih baik. Bangun pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang lebih cerdas, lebih dapat dipercaya, lebih obyektif, dan lebih informatif. Sekarang adalah saat yang tepat untuk hidup lebih berketuhanan, lebih berbakti kepada Tuhan, lebih mampu berinteraksi sosial, lebih beradab, dan lebih mampu mewujudkannya. Selamat tahun baru 1432 Hijriah...

Sabtu, 04 Desember 2010

MENYALAHKAN DIRI SENDIRI

Salah merupakan fakta yang menjadi pengganti, ketika benar gagal diwujudkan. Salah dapat dimaknai sebagai sesuatu yang buruk, berdosa, menyulitkan, atau membawa persoalan. Salah seringkali juga merupakan suatu penyebab, ketika seseorang gagal mewujudkan keberhasilan.


Dengan kata lain, salah merupakan hal biasa, yang biasa terjadi pada manusia. Salah bukanlah hal aneh yang terjadi pada manusia biasa. Sebaik-baik kesalahan adalah kesalahan yang mampu mendorong perbaikan pada diri seseorang. Sebaliknya, seburuk-buruk kesalahan adalah kesalahan yang menghalangi perbaikan pada diri seseorang.


Oleh karena itu, sebaik-baik manusia adalah manusia yang tidak gemar menyalahkan dirinya sendiri. Bila suatu kesalahan terjadi, ia sibuk untuk melacak pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku dirinya yang mengakibatkan terjadinya kesalahan. Ia tidak sempat lagi menyalahkan dirinya sendiri, karena telah disibukkan oleh pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku baru yang akan membawanya terhindar dari kesalahan berikutnya.


Orang yang bersungguh-sungguh memperbaiki kesalahannya, tidak akan pernah melakukan: Pertama, incriminating, yaitu melakukan sesuatu yang menjadikan seseorang, baik dirinya maupun orang lain, nampak sebagai pihak yang bersalah. Kedua, blaming, yaitu menyatakan atau berpikir bahwa seseorang, baik dirinya maupun orang lain, bertanggung-jawab atas terjadinya sesuatu yang buruk. Ketiga, accusing, yaitu memperlihatkan sesuatu untuk menunjukkan bahwa seseorang, baik dirinya maupun orang lain, bertanggung-jawab atas terjadinya suatu keburukan.


Sebagai contoh, ketika seseorang sedang memperbaiki mobil yang telah mogok berbulan-bulan, maka ia akan sibuk mencari bagian-bagian dari mesin mobil tersebut, yang telah menjadi penyebab mogoknya mobil tersebut selama berbulan-bulan. Baginya tidak penting siapa yang terakhir mengendarai mobil tersebut sebelum mogok. Baginya juga tidak penting apakah ada orang, yang pada malam hari sebelum mogok mengendap-endap untuk merusakkan mesin mobil tersebut.


Baginya tidak penting siapa yang bersalah, baginya lebih penting mengetahui apanya yang salah. Jika seseorang enggan menyalahkan orang lain atas terjadinya suatu keburukan, maka tentulah ia juga tidak akan bersedia menyalahkan dirinya sendiri. Kondisi ini akan lebih banyak memberinya kesempatan, untuk memperbaiki segala sesuatu yang salah.


Bagian-bagian dari sebuah sistem yang salah, baik yang bersifat mekanik maupun sosial, selanjutnya diupayakan untuk diperbaiki dengan sesungguh-sungguhnya. Perbaikan ini akan mengembalikan sistem pada fungsi idealnya, sehingga akan memberi manfaat optimal. Agar perbaikan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka seseorang harus bersungguh-sungguh memperbaiki sistem. Tidak ada waktu baginya untuk menyalahkan orang lain, dan tidak ada waktu pula baginya untuk menyalahkan diri sendiri.

Minggu, 28 November 2010

BERJUMPA DENGAN PELAJAR

Pada Hari Minggu tanggal 28 Nopember 2010 bertempat di Kantor SAN Management Jl. Sonopakis Lor No.337 RT.04 DK.IX Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diselenggarakan Seminar Socio Motivation. Bertindak sebagai fasilitator adalah SAN Management, sedangkan narasumbernya seperti biasa adalah Aristiono Nugroho. Tema yang dipilih pada seminar kali ini adalah “Mampu Mengangkat Diri”.


Seminar diawali dengan penjelasan tentang Socio Motivation. Aristiono Nugroho menjelaskan, bahwa manusia seringkali mengunci atau merantai sendiri: (1) kemampuannya, (2) kepercayaan orang lain kepadanya, dan (3) potensinya. Oleh karena itu, manusia (termasuk pelajar) butuh Socio Motivation untuk membuka kunci atau rantai tersebut.


Peserta Socio Motivation, atau mereka yang berkenan menerima konsepsi Socio Motivation akan didorong untuk membangun motivasi yang responsif terhadap dinamika sosial. Motivasi, adalah keinginan, kehendak, atau semangat yang kuat; sedangkan responsif, adalah kemampuan merespon, menjawab, atau mengatasi dinamika sosial secara tepat, yaitu tepat ukuran dan tepat waktu; sementara itu dinamika sosial, adalah perubahan yang terus menerus terjadi pada hidup dan kehidupan masyarakat.


Dalam rangka merespon dinamika sosial, maka para pelajar diajak untuk mampu mengangkat diri. Dalam konsepsi “mengangkat diri”, maka yang diangkat bukan badannya (fisiknya) dan juga bukan hartanya (materinya), melainkan kualitas dirinya. Hal ini perlu disampaikan, karena manusia seringkali sibuk mengangkat materi atau hartanya, tetapi lupa mengangkat kualitas dirinya. Semua barang yang dimilikinya berkualitas, tetapi dirinya tidak berkualitas.


Dengan demikian, dalam konsepsi “mengangkat diri” yang harus diangkat adalah kualitas diri. Bila upaya mengangkat atau meningkatkan kualitas diri dilakukan oleh masing-masing individu, maka hal ini akan terakumulasi menjadi peningkatan kualitas masyarakat. Bila upaya mengangkat diri dilakukan oleh para pelajar, maka besar kemungkinan masa depan pelajar tersebut akan lebih cerah. Kondisi ini pada akhirnya akan mencerahkan masa depan bangsa.


Mengangkat diri dapat dilakukan dengan cara memperhatikan kualitas diri, yang terdiri dari kualifikasi dan kepribadian. Sementara itu, kualifikasi terdiri dari keahlian dan kompetensi. Dengan demikian agar dapat mengangkat diri, maka pelajar perlu memperhatikan tiga hal, yaitu: Pertama, keahlian, adalah kewenangan yang diperoleh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu kegiatan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Kedua, kompetensi, adalah kewenangan yang diperoleh untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu kegiatan berdasarkan keahlian yang dimiliki. Ketiga, kepribadian, adalah kualitas yang dicirikan oleh kemampuan diri menggalang kepercayaan orang lain, sehingga ia berwenang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu kegiatan.


Dengan kata lain, kualitas diri berkaitan dengan kewenangan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau melaksanakan suatu kegiatan berdasarkan kualifikasi (keahlian dan kompetensi) serta kepribadian. Oleh karena itu, bagi pelajar yang berkeinginan meningkatkan kualitas diri, maka ia perlu memperbaiki keahlian, kompetensi, dan kepribadiannya.


Untuk meningkatkan kualitas diri para pelajar wajib berlatih memberi respon yang tepat terhadap dinamika sosial. Latihan ini penting, karena banyak jenis respon yang dapat dimunculkan seorang manusia atau pelajar, yaitu: Pertama, reaktif, adalah respon yang diberikan secara berlebih-lebihan. Kedua, pasif, adalah ketidak-mampuan memberikan respon. Ketiga, aktif, adalah respon yang diberikan ala kadarnya atau sekedarnya saja, tanpa motivasi yang memadai. Keempat, proaktif, adalah respon yang diberikan sebelum adanya stimulus (kondisi atau keadaan yang harus direspon), sehingga cenderung mendahului stimulus dan negative thinking. Kelima, progresif, adalah respon yang diberikan secara berlebih-lebihan sebelum adanya stimulus. Keenam, responsif, adalah respon yang diberikan secara proporsional (tepat ukuran dan tepat waktu) dengan motivasi yang memadai.


Pelajar yang berupaya mengangkat diri akan menghargai waktu, karena ia mengerti, bahwa waktu tetap menjadi sesuatu yang penting bagi pelajar, meskipun pelajar tidak mengetahui tentang pentingnya waktu. Pelajar yang mengerti tentang pentingnya waktu akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Terutama ketika pelajar mengerti, bahwa waktu terdiri dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Masa lalu, adalah waktu yang telah dimanfaatkan; sedangkan masa kini, adalah waktu yang sedang dimanfaatkan; sementara itu masa depan, adalah waktu yang akan dimanfaatkan. Sesungguhnya, waktu dimanfaatkan oleh manusia untuk berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku. Pemikiran, menghasilkan tawaran alternatif atau pilihan solusi atas suatu masalah yang dihadapi. Selanjutnya dari pemikiran muncul sikap, di mana sikap, adalah pilihan yang ditetapkan atas salah satu tawaran alternatif atau pilihan solusi atas suatu masalah yang dihadapi. Setelah adanya sikap barulah muncul tindakan, di mana tindakan, adalah sesuatu yang dilakukan berdasarkan sikap. Akhirnya muncul perilaku, yang merupakan tindakan yang dilakukan berulang-ulang.


Bagi pelajar yang mampu mengangkat diri, maka hal ini akan bermanfaat baginya, antara lain: Pertama, hidup penuh percaya diri, karena sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan memiliki potensi yang dapat terus menerus dikembangkan. Kedua, tetap semangat dalam belajar, karena belajar adalah bagian dari proses mengangkat diri. Ketiga, siap menghadapi ujian nasional atau “UN”, karena percaya diri dan telah belajar secara terus menerus. Keempat, siap menetapkan pilihan setelah tamat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), karena telah mengetahui adanya dua pilihan, yaitu: (1) menciptakan atau mencari pekerjaan, dan (2) meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Salah satu fenomena saat ini yang seringkali ”menggoda” pelajar adalah adanya fenomena tawuran. Pelajar yang mampu mengangkat diri mengetahui, bahwa tawuran terjadi karena manusia yang tawuran: (1) gagal mengkomunikasikan kepentingan atau kehendak yang berbeda, (2) gagal mempraktekkan keunggulan manusia dibandingkan hewan, di mana keunggulan manusia terletak pada kemampuannya mengkomunikasikan perbedaan, dan (3) gagal memahami fitrah manusia yang mampu hidup berdampingan secara damai meskipun memiliki banyak perbedaan.


Sementara itu, di kalangan pelajar kadangkala juga terjadi tawuran. Pelajar yang mampu mengangkat diri mengetahui, bahwa tawuran pelajar terjadi karena pelajar yang tawuran: Pertama, gagal menjadi makhluk dewasa yang mampu mengkomunikasikan perbedaan kehendak dan kepentingan; Kedua, gagal mengaktualisasi diri pada hal-hal yang baik, karena lebih mudah mengaktualisasi pada hal-hal yang buruk. Tepatnya lebih mudah menjadi hewan, daripada menjadi manusia.


Perhatikan tawuran (pertarungan atau perkelahian) antar ayam, yang merupakan contoh perilaku hewan. Jika yang tawuran ayam, maka hal ini wajar, karena ayam adalah hewan. Tawuran ayam biasanya terjadi karena diprovokasi oleh manusia. Namun jika yang tawuran pelajar, maka hal ini merupakan hal buruk, karena pelajar adalah manusia.


Akibat berlangsungnya tradisi tawuran dan kekerasan, maka hidup menjadi tidak nyaman. Ke sekolah tidak nyaman, ke kampus tidak nyaman, nonton sepak bola tidak nyaman. Hidup menjadi tidak nyaman. Padahal tiap orang butuh kenyamanan. Pelajar butuh kenyamanan, agar dapat menempuh ujian nasional atau ”UN” dengan baik.


UN adalah cara mengukur kemampuan pelajar menjawab pertanyaan yang ada pada soal UN. Oleh karena itu, pelajar perlu mengetahui, bahwa UN bukanlah cara untuk mengukur kesuksesan pelajar di masa depan. Dengan demikian, tidak lulus UN bukanlah ”kiamat”. Banyak cara untuk hidup sukses, meskipun tidak lulus UN, misalnya dengan mengikuti program dan ujian Paket-A (untuk Sekolah Dasar), Paket B (untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), dan Paket C (untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Hal terpenting bagi pelajar adalah mempersiapkan diri dan mengikuti UN dengan sebaik-baiknya. Pelajar perlu mengikuti UN dengan tenang, dan bersiap menghadapi apapun hasil UN yang akan diterimanya.


Oleh karena itu, agar memperoleh hasil belajar sebaik-baiknya dan untuk menghadapi UN, maka ada tiga hal yang saling terkait, yaitu: Pertama, belajar, yaitu upaya untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan, serta mampu memanfaatkan teknologi. Kegiatan belajar mendorong pelajar untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan.


Kedua, bimbingan belajar, yaitu upaya untuk mendapatkan cara belajar yang paling efektif dan paling efisien dalam belajar. Bimbingan belajar mendorong pelajar untuk belajar secara efektif dan efisien.


Ketiga, seminar motivasi, yaitu upaya membangkitkan keinginan, kehendak, dan semangat yang kuat pada diri pelajar untuk belajar sebaik-baiknya. Seminar motivasi mendorong pelajar untuk belajar dan mengikuti bimbingan belajar.

Jumat, 19 November 2010

PERBAIKAN DIRI SENDIRI

Perbaikan adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, atau upaya melakukan sesuatu dengan lebih baik. Upaya ini akan muncul, hanya apabila seseorang telah memiliki kesadaran tentang pentingnya menjadi orang yang semakin baik. Sebagai contoh, seorang pelajar yang ingin melakukan perbaikan, maka sesungguhnya keinginan itu barulah muncul ketika ia telah faham tentang pentingnya menjadi lebih baik.


Agar dapat mencapai perbaikan diperlukan: Pertama, upaya untuk membangun atau memperbaiki keahlian, pengetahuan dan lain-lain. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki keahlian dan pengetahuannya. Pelajar tersebut perlu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku serius (bersungguh-sungguh) dalam mengikuti pelajaran di kelasnya, agar pengetahuannya bertambah terus. Ia juga perlu mengikuti praktikum mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah dengan sungguh-sungguh, agar ia memiliki keahlian yang semakin baik.


Kedua, upaya untuk melakukan sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki cara belajarnya agar ia semakin mudah menyerap pengetahuan dan keahlian. Ia perlu menjajagi beberapa cara belajar, agar ia dapat menemukan cara belajar yang cocok dengan dirinya. Banyak cara belajar yang dapat ia jajagi, seperti: belajar secara visual (melihat gambar), belajar secara audio (mendengar suara), belajar secara audio visual (mendengar suara dan melihat gambar), belajar sambil menulis, dan lain-lain.


Ketiga, upaya untuk menciptakan suatu situasi baru, yang lebih baik dari situasi sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menciptakan situasi baru yang lebih “cair” atau lebih nyaman, ketika ia berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya. Situasi yang lebih nyaman juga perlu diciptakan, ketika ia berinteraksi dengan guru, tutor, atau siapapun yang menjadi narasumber pengetahuannya. Dengan situasi baru yang lebih nyaman ini, maka ia akan lebih mudah menyerap pengetahuan yang bermanfaat bagi bekal kehidupannya.


Keempat, upaya untuk menemukan sesuatu yang baru, atau menjadi orang pertama yang menemukan sesuatu hal yang penting. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menemukan sesuatu yang baru pada dirinya, yaitu motivasi yang selalu diperbarui. Ia menjadi orang pertama yang mengetahui hakekat hidupnya, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan dirinya sendiri. Sebelum orang tua, guru, atau sahabat mengetahui hakekat dirinya, ia adalah orang pertama yang mengetahui hakekat dirinya sendiri. Ia mengetahui tentang visi hidupnya, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermanfaat optimal bagi lingkungannya.


Kelima, upaya melakukan sesuatu yang baru yang dirancang dan diciptakan secara baru. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia siap melakukan sesuatu yang baru dalam mewujudkan visinya, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermanfaat optimal bagi lingkungannya. Untuk itu ia siap mewujudkannya dalam semangat baru, dalam motivasi yang lebih kuat, dan dalam kualitas diri yang lebih siap dalam merespon dinamika sosial. Oleh karena itu, ia akan terus menerus memperbaiki rancangannya, agar terus menerus nampak sebagai rancangan yang baru, dan agar selalu siap menghadapi situasi yang selalu baru.

Selasa, 16 November 2010

BERBAGI DENGAN MASYARAKAT

Tanggal 14 Nopember 2010, Aristiono Nugroho sebagai narasumber (sekaligus motivator) Socio Motivation berbagi dengan masyarakat (dari kalangan yang heterogen) tentang motivasi, khususnya yang berkaitan dengan “Mampu Mengembangkan Diri”.


Pada kesempatan itu berhasil difahami, bahwa: Pertama, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri ada syaratnya, yaitu: memiliki rasa ingin tahu, pemikiran terbuka, dapat menerima perubahan, bersedia belajar terus menerus, dan bersedia membangun suasana yang nyaman dan aman.


Kedua, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri ada caranya, yaitu: bersedia menjadi orang yang tahu tentang sesuatu, agar bisa melakukan sesuatu, sehingga menjadi orang yang sukses. Selain itu juga diperlukan kesediaan untuk melakukan analisis kebutuhan dengan mempertimbangkan kepentingan para pihak, serta bersedia melakukan perbaikan kompetensi.


Ketiga, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri, mengindikasikan kualitas seseorang yang bersedia berubah menjadi lebih baik. Bila gagal berubah, maka orang tersebut akan berusaha terus menerus agar berubah menjadi lebih baik. Agar berubah, maka pelajari data (valid dan reliable) yang ada secara obyektif (sesuai tujuan analisis), sehingga seseorang dapat melakukan sesuatu dengan tepat (baik, benar, dan indah). Seseorang yang yang mampu mengembangkan diri, juga mengindikasikan kualitas seseorang yang bersedia terus menerus mencari peluang, agar menjadi lebih baik.


Minggu, 07 November 2010

DIBEBANKAN PADA DIRI SENDIRI

Seseorang yang memiliki keteguhan dalam berjuang mengarungi hidup, tidak akan gentar dengan beban yang dipikulkan kepadanya. Ia justru merasa, bahwa beban yang dipikulkan itu merupakan pengakuan atas eksistensi dirinya. Ia mengerti, bahwa sebagai manusia ia memperoleh dua beban utama untuk dilaksanakan, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal bagi lingkungannya.


Agar hal-hal yang dibebankan pada diri sendiri tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka seseorang harus: Pertama, jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang lain akan percaya kepada dirinya, sehingga memudahkannya bersinergi dengan orang lain dalam melaksanakan bebannya. Kedua, profesional, karena dengan bermodalkan profesionalitas, siapapun yang memerlukannya akan merasa puas dengan yang ia kerjakan. Ketiga, inovatif, karena dengan bermodalkan inovasi ia mampu menciptakan sesuatu yang baru.


Kemampuannya dalam hal membangun kepercayaan dan sinergi dengan orang lain, serta profesionalitasnya dalam bekerja, dan kemampuannya berinovasi menjadi pengantar bagi hadirnya manfaat optimal dirinya di tengah-tengah lingkungannya. Selanjutnya kemampuan memberi manfaat optimal ini ia persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai bentuk baktinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disertai dengan kekhusuannya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Setelah seseorang memiliki sifat jujur, profesional, dan inovatif; selanjutnya ia harus berupaya sungguh-sungguh mewujudkan tanggung-jawabnya (sesuai bebannya) dengan bersikap: Pertama, meyakini bahwa beban yang ada pada dirinya, yaitu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memberi manfaat optimal bagi lingkungannya, merupakan beban yang mulia dan dapat memuliakan orang lain. Kedua, oleh karena itu, ia harus memiliki kegigihan dan mampu meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiarnya. Ketiga, sehingga ia dapat menjadi orang yang terpercaya, baik oleh Tuhan Yang Maha Esa, maupun oleh manusia.


Dengan demikian seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia dengan sungguh-sungguh untuk berlatih dan berpikir keras. Ia harus mampu mengenal diri dan potensinya, sehingga ia dapat mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya, dan menempah dirinya secara optimal. Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk mengenal situasi dan lingkungannya, sehingga ia bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal, dan sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara profesional.


Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk mengevaluasi setiap hasil karyanya, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan, dan senantiasa meningkatkan kinerjanya.

Minggu, 31 Oktober 2010

BERBAGI DENGAN KARYAWAN

Tanggal 31 Oktober 2010 SAN Management (dahulu: Suprayitno Management) mengadakan Seminar Socio Motivation. Sebagaimana seminar-seminar Socio Motivation yang biasa dilakukan, seminar kali ini tetap memasang tagline “Membangun Motivasi Yang Responsif Terhadap Dinamika Sosial”, sedangkan tema yang dipilih untuk dibahas dan didiskusikan adalah “Mampu Mengatur Diri”.

SAN Management yang memiliki tagline “Ada Untuk Berbagi Motivasi” pada seminar kali ini mengundang karyawan, yang menekuni berbagai profesi. Dengan semangat yang tinggi, para karyawan ini bersedia “hanyut” dalam diskusi yang difasilitasi Aristiono Nugroho (penggagas dan narasumber Socio Motivation).

Para karyawan peserta diskusi sepakat, bahwa setiap orang perlu menetapkan visi (cita-cita) hidupnya, yang kemudian diteruskan dengan menyusun kegiatan utama. Hal selanjutnya adalah memilih ruang lingkup aktivitas, dan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan kegiatan utama.

Kegiatan utama yang penting bagi para karyawan, antara lain: Pertama, kegiatan mengelola waktu. Kegiatan ini penting, karena orang sukses dan orang gagal memiliki jumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam setiap hari. Hal yang membedakan keduanya terletak pada kemampuan memanfaatkan waktu. Orang-orang sukses sangat cermat dalam memanfaatkan waktu, sebaliknya orang-orang gagal sangat menganggap remeh waktu.

Kedua, kegiatan mengelola pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku. Kegiatan ini penting, karena orang-orang sukses cermat dalam menawarkan berbagai pilihan kegiatan yang berkebajikan melalui pemikirannya. Berbagai pertimbangan itu kemudian salah satunya dipilih untuk dilaksanakan. Penetapan memilih salah satu alternatif tindakan merupakan bagian dari sikap, sedangkan pelaksanaannya merupakan tindakan. Tindakan-tindakan terbaik kemudian diulang-ulang, sehingga menjadi perilaku.

Ketiga, kegiatan membangun disiplin. Kegiatan ini penting, karena seringkali ada pihak yang kurang mampu membangun disiplin. Disiplin adalah melakukan tindakan secara terkendali dengan cermat, tepat dan terus menerus. Contoh: seorang karyawan toko yang disiplin, akan datang tepat waktu, melayani pembeli dengan baik, dan pulang tepat waktu.

Keempat, kegiatan membuat rencana. Kegiatan ini dilakukan dengan terlebih dahulu memperhatikan kekuatan, kesempatan, kelemahan, dan ancaman. Kekuatan yang perlu diperhatikan, antara lain kemampuan yang dimiliki, sarana dan prasarana yang tersedia, serta waktu yang tersedia. Selain itu perhatikan peluang yang ada, hambatan fisik dan non fisik yang dapat menghalangi sukses, serta kemungkinan buruk yang terjadi.

Kelima, kegiatan yang kreatif. Kegiatan ini dilakukan dengan memikirkan, dan menerapkan hal-hal baru, misal: Apabila membuka toko beras, bukalah toko beras di lokasi yang belum ada toko beras. Atau, apabila telah ada toko beras di suatu wilayah, maka bukalah toko beras yang berbeda dalam hal kualitas beras dan kualitas pelayanan. Pengertian yang berbeda ini hendaknya dimaknai sebagai sesuatu yang baik. Tepatnya, lebih baik dari yang lain.

Sabtu, 23 Oktober 2010

MAMPU MENOLONG DIRI SENDIRI

Menolong (help) adalah membuat sesuatu menjadi mudah bagi seseorang, atau membuat seseorang menjadi mudah dalam melakukan sesuatu. Menolong diri sendiri (self help) adalah membuat sesuatu menjadi mudah bagi diri sendiri, atau membuat diri sendiri menjadi mudah dalam melakukan sesuatu.

Dengan demikian pengertian “menolong diri sendiri” tersebut dapat difahami sebagai sebuah proses membuat sesuatu dapat diterima dengan mudah, dan proses membuat sesuatu dapat dilakukan dengan mudah. Tepatnya, diri sendiri menjadi lebih mudah menerima dan mudah melakukan sesuatu.

Sesuatu dapat diterima bila: Pertama, sesuatu dapat disetujui secara kontent (berdasarkan isinya) dan kontekstual (berdasarkan kaitannya dengan hal-hal lain) oleh diri sendiri. Kedua, sesuatu difahami sebagai sebuah kebenaran secara kontent dan kontekstual, meskipun dalam pelaksanaannya berakibat tidak menyenangkan bagi diri sendiri. Ketiga, sesuatu difahami sebagai sebuah situasi dan kondisi yang secara kontent dan konteks memberi peluang menguntungkan bagi diri sendiri untuk bergabung.

Sementara itu, sesuatu dapat dilakukan bila: Pertama, sesuatu difahami sebagai sesuatu yang perlu, penting, berguna, bermanfaat, dan membahagiakan bagi diri sendiri. Kedua, sesuatu difahami sebagai suatu situasi dan kondisi yang memaksa diri untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri. Ketiga, sesuatu difahami sebagai bagian dari suatu proses yang sedang diperjuangkan oleh diri sendiri, sehingga sesuatu itu perlu dilakukan.

Menolong diri sendiri bukanlah konsep asosial, melainkan sebuah konsep yang sangat menghormati konteks sosial. Ketika seseorang sedang menolong dirinya sendiri, maka ia memerlukan orang lain sebagai mitra. Orang lain yang berperan sebagai mitra tersebut berguna, untuk:

Pertama, pendorong diterimanya sesuatu, karena relevan dengan interaksi sosial yang sedang dibangun oleh seseorang (yang sedang menolong dirinya sendiri) dengan mitranya.

Kedua, pendorong diterimanya sesuatu, karena meskipun dalam pelaksanaannya berakibat tidak menyenangkan bagi diri sendiri, namun ternyata bermanfaat bagi mitranya.

Ketiga, pendorong diterimanya sesuatu, karena memberi peluang menguntungkan bagi diri sendiri dan mitra yang bersedia bergabung dengannya.

Keempat, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai sesuatu yang perlu, penting, berguna, bermanfaat, dan membahagiakan bagi diri sendiri dan mitranya.

Kelima, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai suatu situasi dan kondisi yang memaksa diri untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri dan mitranya.

Keenam, pendorong dilakukannya sesuatu, karena sesuatu itu difahami sebagai bagian dari suatu proses yang sedang diperjuangkan oleh diri sendiri dan mitranya, sehingga sesuatu itu perlu dilakukan.

Minggu, 17 Oktober 2010

BERBAGI DENGAN MAHASISWA

Hari Minggu tanggal 17 Oktober 2010 merupakan hari yang membahagiakan, karena saat itu Seminar Socio Motivation dihadiri oleh para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Seminar ini membahagiakan, karena aliran informasi, pengetahuan, dan pengalaman tidak berlangsung satu arah, melainkan berlangsung secara timbal balik antara peserta dengan narasumber.

Tema yang dipilih dalam Seminar Socio Motivation saat itu adalah “Mampu Beralamat Sendiri”. Penggunaan istilah “beralamat sendiri” tentulah tidak dimaknai secara etimologis, melainkan dimaknai secara simbolis, yang berarti “berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku mandiri”.

Dalam suasana berbagi, narasumber dan para mahasiswa peserta seminar sepakat, bahwa “beralamat sendiri” barulah terwujud bila seseorang berkenan membangun percaya diri tahap demi tahap. Dengan kata lain “beralamat sendiri” akan terwujud tahap demi tahap seiring dengan terwujudnya percaya diri yang juga tahap demi tahap.

“Beralamat sendiri” dibangun dari latar belakang yang berkaitan dengan pentingnya berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku mandiri bagi seseorang. Selanjutnya latar belakang ini diperkaya dengan berbagai referensi dan pengalaman, yang mengarah pada dorongan berbuat kebajikan. Ketika proses menuju karakter “beralamat sendiri” sedang berjalan, jangan segan-segan untuk terus memperbaiki diri seiring dengan proses yang tetap berlangsung.

“Beralamat sendiri” sesungguhnya bukanlah konsepsi individual yang steril dari konteks sosial, melainkan justru sebuah konsepsi individual yang berkonteks sosial. “Beralamat sendiri” akan bersinggungan dengan pihak lain melalui beberapa “jalan”, seperti:

Pertama, dengan menunjukkan pentingnya pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku mandiri bagi orang lain. Tunjukkan bahwa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang diekspresikan sangat diperlukan bagi orang lain.

Kedua, dengan menunjukkan akibat baik atau dampak positif dari pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku mandiri bagi orang lain. Tunjukkan bahwa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang diekspresikan mampu memberi manfaat, keuntungan, kesejahteraan, dan kenyamanan bagi orang lain.

Ketiga, dengan menunjukkan bahwa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku mandiri seiring dan sejalan dengan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku masyarakat. Tunjukkan bahwa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang diekspresikan mampu berkontribusi dalam mendukung dan menjadi bagian dari pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku masyarakat.

Jumat, 15 Oktober 2010

MAMPU MENGEKSPRESIKAN DIRI

Ekspresi (expression), adalah kondisi ketika seseorang memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya kepada orang lain. Dengan demikian “mampu mengekspresikan diri”, adalah kemampuan seseorang dalam memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya kepada orang lain, sesuai dengan kepentingan yang sedang diperjuangkannya.

Ketika ia sedang memperjuangkan kebajikan, maka ekspresinya akan memperlihatkan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang mengarah pada kebajikan. Ekspresi kebajikan dapat dilakukan dengan cara:

Pertama, memanfaatkan kata-kata. Ia dapat memilih kata-kata yang tepat agar orang lain dapat mengenali pemikiran dan sikapnya atas sesuatu. Untuk itu ia sangat membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Kedua, memanfaatkan wajah. Ia dapat memperlihatkan wajah tertentu untuk pemikiran atau sikap tertentu. Ia memperlihatkan wajah gembira bila ia setuju pada suatu kondisi tertentu, ia juga dapat mengerutkan keningnya untuk memperlihatkan ekspresi penolakan atau keterkejutan atas suatu kondisi, atau ia memperlihatkan senyum hambar ketika ia bingung atau ragu-ragu atas suatu kondisi tertentu.

Ketiga, memanfaatkan gestures, yaitu suatu gerakan tangan, badan, atau kepala yang diperlihatkan oleh seseorang, untuk menunjukkan pemikiran dan sikapnya atas suatu kondisi tertentu. Ia dapat menggelengkan kepala sebagai tanda ia tidak setuju atas suatu kondisi, atau ia membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan atas pemikiran atau sikap orang yang di hadapannya.

Gestures juga dapat dilakukan oleh seseorang dengan memperlihatkan tindakan tertentu, untuk memberitahukan pemikiran dan sikapnya kepada orang lain atas suatu kondisi tertentu. Misalnya, ia menyingkirkan meja dan kursi yang berada di tengah ruangan, sebagai tanda bahwa ia tidak setuju atas peletakan kursi di tengah ruangan.

Setelah memiliki kemampuan mengekspresikan diri, hal lain yang perlu diperhatikan adalah konteks ekspresi. Sebagai contoh:

Pertama, ada sesuatu yang bersifat rahasia yang berkaitan dengan ekspresi. Untuk konteks ini, maka ekspresi hanya dilakukan kepada orang – orang tertentu yang dapat dipercaya, berwenang, atau berkompeten atas suatu masalah. Caranya dengan memberikan informasi yang mengejutkan atau sangat rahasia tersebut. Cara lainnya adalah dengan mengijinkan data tertentu dilihat oleh orang yang dapat dipercaya, berwenang, atau berkompeten.

Ekspresi atas hal – hal yang bersifat rahasia dilakukan dengan terlebih dahulu membuka tabir informasi atas suatu kondisi atau situasi tertentu. Dengan upaya ini, maka ia akan dapat membuka atau mengetahui sesuatu yang sesungguhnya bersifat rahasia atau tersembunyi. Setelah itu, barulah informasi ini diberikan kepada orang yang dapat dipercaya, berwenang, atau berkompeten.

Kedua, ada sesuatu yang boleh jadi belum diminati orang lain yang berkaitan dengan ekspresi. Untuk mengekspresikan diri atas sesuatu hal yang belum diminati oleh orang lain, maka terlebih dahulu harus ditumbuhkan minat tersebut. Caranya dengan memperlihatkan, bahwa sesuatu yang perlu diminati itu adalah sesuatu yang penting, perlu dilakukan, atau membutuhkan perhatian khusus.

Jumat, 08 Oktober 2010

TERBUKTI DENGAN SENDIRINYA

Banyak makna yang diberikan oleh masyarakat bagi istilah “bukti” (evidence). Pertama, “bukti” dapat dimaknai sebagai sesuatu yang dipercaya benar adanya. Kondisi seperti ini biasanya dikenali sebagai fakta (fact).


Kedua, “bukti” juga dapat dimaknai sebagai suatu informasi yang diberikan dengan tujuan untuk membantu pembuktian atas sesuatu. Kondisi ini biasanya dilakukan di pengadilan untuk mengungkap suatu kasus tertentu, baik yang bersifat pidana, perdata, tata usaha negara, maupun konstitusional.


Dalam konteks motivasi, “bukti” hendaknya dimaknai sebagai fakta, yaitu sesuatu yang benar (true) dan sesuatu yang nyata (real). Untuk itu dibutuhkan proses tertentu, agar sesuatu diterima sebagai sesuatu yang benar dan nyata. Kondisi ini biasa dikenali sebagai proses pembuktian.


Dengan demikian istilah “terbukti dengan sendirinya” tidak dimaksudkan untuk menafikan (meniadakan) proses, melainkan justru ingin mendorong dilakukannya proses pembuktian secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga orang lain memahaminya sebagai sesuatu yang “terbukti dengan sendirinya”.


Orang lain memahaminya sebagai sesuatu yang “terbukti dengan sendirinya”, karena mereka tidak mampu melihat proses yang ada. Hal ini disebabkan proses tersebut berlangsung sangat alami (natural), sehingga hasil yang diperoleh nampak sebagai sesuatu yang wajar terjadi.


Sebagai contoh, seseorang yang berjuang mencapai sukses, dengan melakukan berbagai upaya secara sistematis, efektif, dan efisien, maka lambat laun akan sukses. Ketika orang tersebut telah mencapai sukses, maka orang lain memahaminya sebagai sesuatu yang “terbukti dengan sendirinya”.


Orang lain tidak mampu melihat proses yang ada, karena orang tersebut menjalani proses kehidupannya dengan sangat alami. Ketika gagal, ia bangkit kembali untuk mencoba membangun kebajikan dengan cara yang lain.


Sampai suatu saat berbagai kebajikan yang diikhtiarkannya terakumulasi sebagai kesuksesan. Saat itulah, segala sesuatu yang dilakukannya bagi orang lain akan nampak sebagai sesuatu yang wajar. Dengan kondisi demikian, di mata banyak orang (orang lain), kesuksesannya akan difahami sebagai sesuatu yang “terbukti dengan sendirinya”.


Sesuatu “terbukti dengan sendirinya”, karena ada unsur “keniscayaan” dalam pembuktiannya. Keniscayaan muncul sebagai konsekuensi logis, atas berbagai ikhtiar kebajikan yang dirancang dan diimplementasikan oleh orang tersebut. Keniscayaan barulah muncul, bila ikhtiar dilakukan secara sistematis, efektif, dan efisien.


Dengan demikian, mari wujudkan “terbukti dengan sendirinya” melalui proses pembuktian secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga orang lain tidak mengenali prosesnya, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang alami. Atau orang lain menganggapnya sebagai “terbukti dengan sendirinya”.

Minggu, 03 Oktober 2010

SOCIO MOTIVATION DI SUPRAJITNO MANAGEMENT

Sejak diluncurkannya “Socio Motivation” oleh Aristiono Nugroho pada hari Rabu tanggal 12 Mei 2010, Suprajitno Management telah tertarik untuk bekerjasama. Setelah melalui proses negosiasi yang panjang (untuk membangun chemistry), akhirnya pada hari Minggu tanggal 3 Oktober 2010 disepakati kerjasama antara Aristiono Nugroho selaku penggagas “Socio Motivation” dengan Suprajitno Management.


Berdasarkan kerjasama itu, Aristiono Nugroho berkewajiban untuk terus menerus mengembangkan “Socio Motivation” bagi berbagai kalangan (pelajar, mahasiswa, dan umum). Sementara itu, Suprajitno Management berkewajiban untuk memasarkan “Socio Motivation” bagi berbagai kalangan.


Pada saat peresmian kerjasama, juga dilakukan pelatihan motivasi bagi pelajar dari berbagai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Yogyakarta, dengan tema “Membangun Percaya Diri”. Pelatihan motivasi diikuti oleh para pelajar ini dengan penuh antusias, sehingga mereka mengerti bahwa percaya diri merupakan sesuatu yang penting. Percaya diri dibangun oleh seseorang melalui keyakinan, bahwa ia memiliki kemampuan, dapat dipercaya, dan memiliki potensi yang dapat diekspresikan.

Jumat, 01 Oktober 2010

MEMBANGUN HARGA DIRI

Harga diri (esteem) adalah suatu kondisi di mana seseorang menghormati dirinya sendiri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Untuk itu ia menunjukkan perilaku yang halus, lembut, dan tidak kasar, serta berupaya menunjukkan pada khalayak bahwa ia memperhatikan kesetaraan kepentingan dirinya dengan orang lain.


Ketika seseorang berupaya membangun harga dirinya, maka ada beberapa hal yang harus ia lakukan, yaitu: Pertama, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam, atau larut dalam masalah, karena kondisi ini akan menjadikan ia hidup tanpa solusi atas masalah yang dihadapi. Kedua, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam dalam kepasrahan, serta jangan pernah hanya mengharap keajaiban dan tanpa upaya, melainkan terus menerus berupaya mengatasi masalah sebagai suatu cara membuat keajaiban. Ketiga, ia harus lakukan penataan emosi dalam format sadar diri, dengan memanfaatkan potensi untuk mencari solusi.


Ketiga upaya tersebut membutuhkan kesediaannya untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, ia harus memperhatikan content, konten, atau isi, seperti: isi pengendalian diri, semangat, ketekunan, dan kemampuan memotivasi diri sendiri. Kedua, ia harus memperhatikan context, konteks, atau relevansi, seperti: berbagai situasi dan kondisi yang terkait dengan interaksi antara yang bersangkutan dengan orang lain. Ketiga, ia harus memperhatikan goal atau tujuan, seperti: pemenuhan kepentingan diri sendiri dan orang lain.


Setiap orang hendaknya bersegera membangun harga diri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Salah satu kebajikan yang dapat diraih melalui pengendalian diri adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.


Perilaku menahan amarah merupakan perilaku seseorang yang memiliki harga diri. Perilaku ini berpasangan secara relasional (sebab akibat) dengan perilaku memaafkan kesalahan orang lain. Kedua perilaku ini dapat dipandang sebagai perilaku yang bersifat parallel (sejajar), maupun linear (serial). Dalam perspektif parallel masing-masing perilaku (menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain) difahami dapat muncul bersamaan. Sedangkan dalam perspektif linear difahami, bahwa perilaku diawali oleh perilaku menahan amarah. Perilaku ini memberi kesempatan pada individu yang bersangkutan untuk memunculkan perilaku memaafkan kesalahan orang lain.


Seseorang yang memiliki harga diri akan secara sadar mengekspresikan perilaku menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Kesadaran diri sendiri ini mencakup dua hal, yaitu: kesadaran terhadap adanya proses berpikir atau metakognisi (metacognition), dan kesadaran terhadap adanya penataan emosi atau metamood.


Metakognisi dan metamood menghasilkan kesadaran individu terhadap adanya pemikiran tentang perlunya penataan emosi. Hal ini memberi pilihan bagi individu tersebut untuk melakukan penekanan emosi, yang akan menimbulkan pemberontakan; atau melakukan pembebasan emosi, yang akan menimbulkan kejenuhan.


Oleh karena penekanan dan pembebasan emosi menimbulkan efek negatif pada individu, berupa pemberontakan dan kejenuhan pada diri individu yang bersangkutan, maka dibutuhkan adanya solusi emosional berupa pengendalian emosi. Pengendalian emosi, merupakan konsepsi perilaku diri sendiri yang bersifat individual, sadar, rasional, internal, dan sukarela.


Seseorang yang mampu mengendalikan emosi memiliki karakteristik, sebagai berikut: Pertama, ia mengerti dengan sungguh-sungguh, bahwa Tuhan dapat dimohon pertolonganNya terhadap apapun situasi dan kondisi yang dialami. Kedua, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima informasi, deskripsi, atau berita apapun. Ketiga, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima pengakuan dari pihak yang telah berbuat salah atau merugikan dirinya. Keempat, ia memiliki kesabaran (dalam arti tetap gigih mencari solusi) dan dapat menahan perasaan, ketika mengetahui ada kejanggalan atau mengalami situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan.


Pengendalian emosi yang dilakukan oleh individu, akan dapat menetralisir pemberontakan dan kejenuhan diri, melalui penyikapan kebutuhan secara tepat, yaitu: ada kebutuhan emosi yang dapat dipenuhi secara proporsional karena bermanfaat; dan ada kebutuhan emosi yang tidak dapat dipenuhi, karena tidak bermanfaat. Ketika seseorang berhasil melakukan hal ini, maka ia telah mengakses jalan bagi pembangunan dirinya menjadi manusia yang memiliki harga diri.

Sabtu, 25 September 2010

MAMPU MENIADAKAN DIRI

Istilah “meniadakan diri” merupakan istilah yang bermakna simbolik, di mana dalam istilah ini yang dihilangkan adalah segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku diri yang akan menghalangi kebajikan.


Kemampuan “meniadakan diri” diperlukan, agar tujuan berbuat kebajikan dapat semakin mudah diwujudkan. Kebajikan menjadi hal penting, karena kebajikan diwujudkan dalam segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang memiliki nilai positif di hadapan Tuhan, dan juga memiliki nilai positif di hadapan manusia.


Dengan demikian ”meniadakan diri” adalah suatu kondisi di mana seseorang mampu menghilangkan segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku diri yang akan menghalangi kebajikan. Seseorang yang sedang berupaya “meniadakan diri” akan memperlihatkan kecenderungan tidak lagi gemar menonjolkan diri. Hal penting bagi seseorang yang mampu “meniadakan diri” adalah kontribusinya terhadap kebajikan. Ia tidak peduli, apakah orang lain mengetahui perannya atau tidak.


Seseorang yang mampu “meniadakan diri” berperan dalam dua hal, yaitu: Pertama, to be real or present, di mana ia berkontribusi melalui perannya, sehingga kebajikan menjadi nyata dan hadir dalam kehidupan sosial. Kedua, to live in difficult condition, di mana ia berkontribusi melalui perannya, sehingga kebajikan tetap ada (exist) meskipun dalam keadaan atau tempat yang sulit.


Upaya “meniadakan diri” akan mendorong seseorang untuk terus menerus meningkatkan kemampuannya mewujudkan kebajikan dalam kehidupan sosial, di mana pada saat yang sama ia berupaya agar orang lain tidak mengetahui kontribusinya atas kebajikan tersebut. Ia berupaya menghapuskan segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku diri yang akan menghalangi kebajikan, sekaligus menghilangkan jejak kontribusinya atas kebajikan.


Seseorang yang berupaya “meniadakan diri”, akan bersungguh-sungguh dalam menghancurkan segala sesuatu yang buruk dan tidak bermanfaat bagi kebajikan. Dalam diskusi internal, antara dirinya dengan dirinya sendiri, ia bersungguh-sungguh melacak segenap unsur yang dapat mendukung kebajikan. Ia juga bersungguh-sungguh menjelaskan kepada dirinya sendiri, tentang segala sesuatu yang memiliki kesalahan dan ketidak-benaran, yang mengancam kebajikan yang sedang diperjuangkannya.


Seseorang yang berupaya “meniadakan diri”, akan bersungguh-sungguh dalam menghancurkan egoisme, karena akan menghalang-halangi kebajikan yang diperjuangkannya. Ia akan memanfaatkan kehendak (will) yang ada pada dirinya untuk mendukung kebajikan. Baginya kehendak merupakan sesuatu yang penting, karena merupakan sumberdaya pada dirinya yang terlibat dalam pengambilan keputusan.


Pada saat melakukan pengambilan keputusan, ia juga akan melibatkan rasio, yang merupakan kemampuannya untuk melakukan abstraksi, memahami, menghubungkan, merefleksikan, serta memperhatikan kesamaan atau perbedaan sesuatu. Ketika ia mensinergikan kehendak dengan rasionya, ia berpeluang melakukan dua kemungkinan:


Pertama, ia memposisikan kehendak di atas rasionya, atau mengutamakan kehendak daripada rasionya. Pada kondisi ini, ia berada pada posisi menghendaki. Hal ini akan mengarahkannya pada voluntarisme, yaitu suatu faham untuk melakukan sesuatu berdasarkan kehendaknya (volunteer berarti sukarela).


Kedua, ia memposisikan rasio di atas kehendaknya, atau mengutamakan rasio daripada kehendaknyanya. Pada kondisi ini ia telah berada pada posisi mengetahui. Hal ini akan mengarahkannya pada intelektualisme, yaitu suatu faham untuk melakukan sesuatu berdasarkan rasionya (intellectual berarti cerdik pandai).


Sesungguhnya peluang posisi menghendaki (voluntarisme) dan mengetahui (intelektualisme) dapat disinergikan oleh orang yang bersangkutan untuk mendukung pengambilan keputusan (proposisi). Namun tetap saja terbuka dua kemungkinan, yaitu:


Pertama, berupa keputusan emosional, yaitu keputusan yang timbul ketika posisi mengehendaki lebih unggul dari posisi mengetahui, atau suatu keputusan lebih didasarkan pada kehendak daripada pengetahuan seseorang tentang sesuatu.


Kedua, berupa keputusan rasional, yaitu keputusan yang timbul ketika posisi mengetahui lebih unggul dari posisi menghendaki, atau suatu keputusan lebih didasarkan pada pengetahuan daripada kehendak seseorang terhadap sesuatu.


Keputusan emosional merupakan keputusan yang didasarkan pada pemikiran yang kurang cermat sehingga dapat menghalangi terwujudnya kebajikan. Oleh karena itu, seseorang yang mampu ”meniadakan diri” biasanya mampu mereduksi keputusan emosionalnya.


Keputusan emosional harus dihindari, karena cenderung menyimpang dari keadilan, cenderung sesat dan menyesatkan serta mendustakan kebenaran, cenderung tidak berdasarkan pengetahuan yang memadai. Sementara itu, keputusan rasional merupakan keputusan yang didasarkan pada pemikiran yang cermat atau mendalam melalui pemanfaatan akal sehingga berpeluang mendukung terwujudnya kebajikan.


Keputusan rasional harus diupaya-terapkan, karena cenderung menggunakan akal sehingga tidak memperolok-olok kebenaran. Keputusan rasional juga cenderung menghindarkan manusia dari kehinaan, serta memberi peluang bagi manusia dalam menguasai (mampu mengatasi) dinamika sosial. Dengan kata lain, seseorang yang mampu “meniadakan diri” bersungguh-sungguh dalam keputusan rasionalnya.