Tampilkan postingan dengan label sadar diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sadar diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

MENDORONG SADAR DIRI

Seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, hendaklah berkenan menjelajah lingkungan sekitarnya, dan lingkungan yang lebih luas lagi. Saat itulah, ia sedang bergerak membangun pengetahuannya. Sesungguhnya kondisi inilah yang dilakukan di sekolah, kampus, atau pesantren.


Sekolah, kampus, atau pesantren merupakan institusi (organisasi atau lembaga) yang bertugas memprovokasi (mendorong berpikir) pelajar, mahasiswa, atau santri untuk membangun pengetahuan. Guru, dosen, atau ustadz mendorong pelajar, mahasiswa, atau santri untuk mengerti, bahwa kebenaran versi manusia tidaklah tunggal. Contoh, 2 + 5 tidaklah selalu sama dengan 7, karena 2 + 5 dapat saja sama dengan 3 + 4, 1 + 6, dan seterusnya.


Setelah menjelajah lingkungannya, maka seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya akan mengerti, bahwa kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan tidaklah selalu mampu mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan tidak akan bermakna, bila kesemuanya itu dilakukan untuk melakukan keburukan.


Bila kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan dilakukan untuk melakukan keburukan, maka hal ini tidaklah hanya merugikan orang lain, melainkan juga merugikan dirinya sendiri. Dengan kata lain bila kekuatan, keterampilan, dan kecerdasan dilakukan oleh seseorang untuk melakukan keburukan, maka sesungguhnya ia sedang menganiaya dirinya sendiri dan orang lain.


Oleh karena itu, seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, hendaklah mampu melakukan: Pertama, persuade, yaitu membuat dirinya dan orang lain setuju untuk melakukan sesuatu, dengan menyampaikan kepada diri sendiri dan orang lain banyak hal tentang sesuatu. Untuk mencapai hal ini, maka seseorang harus mengerti tentang definisi dari tindakan yang diinginkan. Misal, dirinya dan orang lain sedang diprovokasi untuk gemar membaca, maka ia harus mengerti definisi membaca. Selanjutnya juga perlu dicermati tentang: (1) waktu atau saat membaca yang dianggap perlu dilakukan, (2) tempat atau lokasi membaca yang paling ideal, (3) penyebab pentingnya membaca, dan (4) cara membaca yang paling efektif dan efisien.


Kedua, cause, yaitu dirinya dan orang lain yang mampu membuat sesuatu terjadi, alasan (reason) untuk berperilaku tertentu, serta tujuan yang diyakini dan sedang diperjuangkannya. Untuk mencapai hal ini, maka seseorang harus membantu dirinya dan orang lain agar mampu membuat sesuatu terjadi. Selain itu, ia juga harus menjelaskan alasan pada dirinya dan orang lain tentang pentingnya sesuatu terjadi. Sesudah itu, ia juga harus menunjukkan relasi (hubungan) antara tindakan yang dilakukan oleh dirinya dan orang lain dengan tujuan yang diyakini, dan sedang diperjuangkan oleh dirinya dan orang lain.


Apabila seseorang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya, telah melakukan persuade dan cause, maka saat itu ia telah mendorong sadar diri bagi dirinya dan orang lain. Persuade dan cause yang dilakukan dengan sangat ”halus” akan menghasilkan suatu tindakan, kondisi, atau situasi tertentu yang seolah-olah ”otomatis” (niscaya), meskipun sesungguhnya ia dibangun melalui proses developing kesadaran, yang seringkali juga disebut sebagai ”induced”.

Sabtu, 17 Juli 2010

MAMPU SADAR DIRI

Setelah seseorang berhasil: (1) membangun percaya diri, (2) “beralamat sendiri”, (3) mampu mengatur diri, (4) mengembangkan diri, (5) mengangkat diri (6) mampu memperhatikan, dan (6) mampu mengupayakan; adakalanya upayanya tersebut belum berhasil. Untuk itu, ia jangan berputus asa, atau jangan patah semangat. Saat itulah ia berkesempatan memanfaatkan kemampuan sadar-dirinya.


Sebagaimana diketahui, sadar diri adalah kemampuan seseorang dalam mengetahui tentang adanya atau terjadinya sesuatu pada dirinya, yang dengan itu ia bangkit dan mampu mengambil suatu keputusan, pilihan, atau upaya yang tepat dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kebajikan. Sadar diri bermanfaat bagi seseorang, terutama ketika ia ingin mengetahui posisinya dalam berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat. Berdasarkan posisi inilah ia dapat mengambil suatu keputusan, pilihan, atau upaya yang tepat dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kebajikan.


Agar mampu sadar diri seseorang perlu memiliki informasi dan pemahaman yang memadai tentang dirinya dan kebajikan yang diperjuangkannya. Informasi ini diperlukan agar ia mengetahui jarak antara dirinya dengan kebajikan. Bila antara dirinya dengan kebajikan terdapat jarak yang terlalu jauh, maka ia harus berupaya mendekatkan kualitas dirinya dengan kebajikan. Dengan kata lain, kualitas dirinya harus sesuai dengan kebajikan.


Oleh karena itu, seseorang perlu terus menerus memiliki ketertarikan pada kebajikan, dengan cara terus menerus memperbarui informasi dan pemahaman yang memadai tentang kebajikan. Seseorang yang sadar diri juga berikhtiar dengan bersikap, bahwa balasan atas suatu penderitaan yang dialami haruslah sesuatu yang membajikkan.


Balasan juga harus mendorong diri sendiri, orang lain, dan masyarakat semakin senang melakukan kebajikan. Demikian pula dengan balasan atas celaan atau hinaan haruslah sesuatu yang mampu mencerahkan, atau mendorong diri sendiri, orang lain, dan masyarakat semakin gemar memahami kebajikan.


Ikhtiar membajikan dan mencerahkan yang dilakukan oleh seseorang yang sadar diri, berbasis pada kesediaannya untuk menyerap informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya dari lingkungan. Ia sungguh-sungguh berupaya memanfaatkan inderanya secara optimal, dengan banyak mendengar, melihat, dan mengamati.


Bagi seseorang yang sadar diri, umur tidak mampu menghalanginya untuk terus menerus belajar. Baginya belajar tidak selalu bersekolah, melainkan lebih dimaknai sebagai upaya pembaruan informasi, pengetahuan, dan keterampilan secara terus menerus. Oleh karena itu belajar dapat dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, atau belajar dapat dilakukan oleh siapapun baik ia bersekolah maupun tidak bersekolah.