Minggu, 09 Januari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
AKIBAT PERBUATAN SENDIRI
Adakalanya seseorang menyesali perbuatan sendiri, karena perbuatannya telah membuat ia menderita. Penyesalan semacam ini sebetulnya terlambat, karena peristiwa telah terjadi, dan yang bersangkutan telah terlanjur menderita.
Namun demikian, penyesalan semacam ini dapat dimanfaatkan oleh yang bersangkutan sebagai “pengetahuan”, karena ia menjadi tahu tentang akibat suatu perbuatan. Penyesalan semacam ini juga dapat dimanfaatkan oleh orang lain sebagai “pengetahuan” tentang akibat suatu perbuatan, dengan menjadikan orang yang mengalaminya sebagai contoh hidup atas akibat suatu perbuatan.
Oleh karena itu, adalah penting menjadikan bayangan penyesalan di kemudian hari, sebagai pendorong bagi seseorang untuk berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku lebih baik. Hal ini penting, agar ia tidak perlu menyesali perbuatannya di kemudian hari.
Setiap orang perlu mempersiapkan diri agar hidup sukses. Ukuran suksesnya bukanlah pencapaian harta dalam jumlah tertentu, bukan pangkat atau jabatan tertentu, bukan peringkat atau gelar (akademik dan sosial) tertentu, dan bukan pula besarnya keluarga besar yang berhasil dibangun.
Ukuran suksesnya adalah prosesi (pelibatan diri dalam proses) beribadah kepada Tuhan (Allah SWT), dan rahmatan lil’alamiin (memberi manfaat optimal bagi orang lain dan lingkungannya). Untuk itu, maka ia akan mengerahkan harta, pangkat atau jabatan, peringkat atau gelar, dan keluarga sebagai instrumen (alat) pendukung proses beribadah kepada Tuhan dan rahmatan lil’alamiin.
Sebagai ikhtiar (upaya) agar proses berjalan baik, maka ia berusaha sekuat tenaga untuk hadir pada berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ia berusaha untuk tidak menunda pekerjaan yang jelas-jelas bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Ia juga bersungguh-sungguh untuk hanya melakukan hal-hal yang penting (bermanfaat) bagi dirinya dan orang lain. Ia berupaya menghindari pekerjaan sia-sia, baik dalam konteks waktu, energi, maupun biaya (sosial dan finansial).
Ia berupaya membangun kecakapan pikirnya, dengan berlatih terus menerus, agar ia mampu berpikir cepat. Pemikiran yang cepat, akan berakibat pada sikap yang cepat, dan akhirnya bertindak dengan cepat. Tanpa kecepatan pikir, maka seseorang akan kehilangan momentum saat melakukan sesuatu.
Ia berusaha mencari peluang kebajikan di setiap kesempatan. Ia tidak bersedia ditundukkan oleh fakta, sebaliknya ia sangat bersemangat untuk merubah fakta dengan menciptakan fakta baru.
Ia bersedia menerima masukan dari orang lain, terutama dari orang-orang terpercaya, yang selama ini mendorongnya berbuat kebajikan. Pada saat yang sama ia terus menerus melatih kepekaannya, agar mampu menyaring informasi dengan baik. Dengan demikian ia akan terhindar dari fenomena dis-informasi, yang digembar-gemborkan kelompok anti kebajikan.
Selamat berjuang semoga berhasil, dan tidak lagi menyesali perbuatan sendiri.
Minggu, 26 Desember 2010
SUKSES MENUJU SUKSES
Pada akhir tahun 2010 Bangsa Indonesia mengalami kegembiraan yang “dosisnya” relatif tinggi. Hal ini dikarenakan Tim Nasional Indonesia berhasil masuk final Piala AFF (ASEAN Football Federation) Tahun 2010. Meskipun pada Minggu malam Tim Indonesia dikalahkan oleh Tim Malaysia dengan 3 - 0 di Stadion Bukit Jalil - Malaysia, namun Bangsa Indonesia tetap bergembira dan menyayangi Tim Indonesia. Kegembiraan Bangsa Indonesia ini sesungguhnya menunjukkan sikap Bangsa Indonesia yang merindukan prestasi.
Adalah fitrah, bahwa setiap bangsa, setiap masyarakat, setiap kelompok, dan setiap manusia merindukan prestasi. Prestasi adalah keberhasilan gilang gemilang yang diwujudkan oleh suatu bangsa, suatu masyarakat, suatu kelompok, dan seorang manusia, di mana yang bersangkutan berhasil mewujudkan visi (cita-cita) dan misinya (kegiatan utamanya) di dunia. Dalam konteks ini, maka prestasi identik dengan kesuksesan.
“Sukses” haruslah dimaknai dengan tepat, karena beberapa orang seringkali keliru dalam memaknai “sukses”. Apabila kurang berhati-hati dalam memaknai “sukses”, seseorang dapat terjebak pada makna palsu. Dalam maknanya yang palsu, “sukses” seringkali dimaknai sebagai keberhasilan seseorang dalam mengumpulkan harta, mencapai peringkat tertinggi dalam hal pangkat, jabatan, dan gelar (sosial dan akademik), serta mampu membangun keluarga dalam jumlah anggota yang relatif besar.
Sesungguhnya makna “sukses” tidaklah sesempit itu. Sesungguhnya makna “sukses” sangat esensial, bersifat saripati atau bersifat intisari. “Sukses” sesungguhnya, atau sukses yang sebenar-benarnya sukses, adalah ketika seseorang mampu melakukan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal kepada orang lain dan lingkungannya.
Oleh karena “sukses” dapat dimaknai dengan benar (sesungguhnya) dan dapat pula dimaknai secara keliru (salah), maka setiap orang perlu berikhtiar untuk sukses (berhasil) dalam memilih makna “sukses” yang benar, atau sukses yang sesungguh-sungguhnya sukses. Dengan kata lain setiap orang harus sukses dalam memaknai “sukses”. Setelah berhasil memaknai “sukses” dengan sukses (benar), maka ia akan mengetahui adanya “jalan” yang berbeda dalam mencapai sukses semu (salah atau keliru) dengan sukses sesungguhnya (benar atau tepat). Hal ini berarti setiap orang harus sukses memilih “jalan” menuju sukses. Dengan kata lain setiap orang perlu SMS (Sukses Menuju Sukses).
Contoh orang yang berada pada posisi sukses menuju sukses adalah Abdullah Gymnastiar. Ia adalah seorang kiai yang memimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung. Sejak muda Abdullah Gymnastiar telah gemar beribadah kepada Allah SWT dan gemar memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Dalam konteks ”memberi manfaat” sejak muda Abdullah Gymnastiar telah gemar berbisnis. Telah banyak bidang bisnis yang digelutinya, seperti: buku, handicraft, konveksi, mie bakso, dan lain-lain.
Visinya dalam membangun Pondok Pesantren Daarut Tauhid, yaitu menyatukan antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Pertama, dimensi dzikir menekankan keikhlasan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Kedua, dimensi fikir menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan keseharian seseorang, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Ketiga, dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhan dan kerja keras tanpa kenal putus asa.
Menurut Abdullah Gymnastiar, “Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”
Sabtu, 18 Desember 2010
SEBAIK - BAIK PUAS DIRI
Ada seseorang yang melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya, namun adapula seseorang yang melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya. Dalam kedua kondisi ini, ketika seseorang telah berhasil melakukannya, maka orang tersebut akan merasa puas.
Dengan demikian, puas dapat terjadi karena telah melakukan sesuatu yang ingin dilakukan, dan dapat pula terjadi karena telah melakukan sesuatu yang perlu dilakukan. Kata kunci yang menjadi penentu nilai puas adalah “ingin” dan “perlu”.
Dengan demikian ada dua peluang dalam konteks puas, yaitu: Pertama, puas akan memiliki nilai yang baik, bila seseorang melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya. Suatu “tindakan yang perlu dilakukan”, adalah sesuatu tindakan yang akan menjadikan kualitas hidup seseorang lebih baik.
Kedua, puas akan memiliki nilai yang kurang baik, bila seseorang melakukan sesuatu hanya karena ia ingin melakukannya. Suatu “tindakan yang ingin dilakukan”, adalah sesuatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi hasrat seseorang.
Seseorang boleh saja melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya, sepanjang keinginannya itu dalam rangka memenuhi tuntutan keharusan, untuk melakukan sesuatu yang perlu baginya. Dengan kata lain, “keinginan” akan dapat diarahkan ke posisi yang lebih baik, bila ia dicerahkan oleh “keperluan” (kebutuhan) untuk melakukan sesuatu.
Seseorang yang telah melakukan sesuatu karena ia perlu melakukannya, atau karena keinginan untuk melakukan sesuatu didorong oleh perlunya sesuatu dilakukan, berpeluang puas diri. Oleh karena berbasis pada keperluan atau kebutuhan untuk melakukan sesuatu, maka puas diri semacam ini dibolehkan. Inilah sebaik-baik puas diri yang memungkinkan untuk diekspresikan oleh seseorang.
Oleh karena basis puas diri adalah keperluan, maka perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh keperluan yang sungguh-sungguh diperlukan seseorang. Untuk itu seseorang perlu melakukan inventarisasi keperluannya. Hal ini akan membantunya dalam mengenali bentuk atau jenis keperluannya.
Selain itu juga perlu dipertimbangkan alasan atau penyebab suatu tindakan dikategorisasi sebagai keperluan dirinya. Selanjutnya, yang juga penting adalah mempertimbangkan cara mewujudkan atau mengekspresikan tindakan yang diperlukan.
Sebagai contoh, dapat diamati sikap Bill Gates dan Paul Allen. Pada tahun 1975 mereka menyiapkan software sekolah mereka, yang kemudian menjadi awal mula bagi mereka dalam membuat software komputer.
Pengalaman ini kemudian mendorong Bill Gates dan Paul Allen mendirikan Microsoft, yang pada awal berdirinya diabaikan orang. Pada tahun 1990-an, barulah Microsoft berhasil menguasai pasar software komputer. Akibatnya, Bill Gates dan Paul Allen menjadi orang terkenal, dan terdaftar sebagai milyuner.
Demikianlah, sikap harus memutuskan tindakan yang perlu dilakukan seseorang, untuk selanjutnya dieksekusi dengan melakukan tindakan yang perlu tersebut. Setelah itu, seseorang layak puas diri, sambil terus memperbaiki diri, agar lebih puas lagi, demikian seterusnya hingga tak terhingga. Inilah sebaik-baik puas diri.

