Sabtu, 28 Agustus 2010
Sabtu, 21 Agustus 2010
MAMPU MEMBELA DIRI
Membela diri, adalah suatu pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang dalam melindungi diri dari serangan yang bersifat fisik maupun non fisik terhadap dirinya. Hal ini dilakukan seseorang sebagai upaya mencegah diri dari bahaya atau tekanan yang akan merugikan dirinya.
Seseorang yang mampu membela diri tidak mudah terkecoh oleh pujian, karena boleh jadi pujian itu justru dimaksudkan untuk menghancurkan dirinya. Bila ada orang yang memuji dirinya, maka ia akan tersenyum dan menerimanya sebagai pemicu semangat. Namun pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya tetap ia yang memutuskan, terutama dalam menjaga agar ia tetap berada dalam koridor kebajikan.
Seseorang yang mampu membela diri juga tidak mudah terkecoh oleh hinaan, karena boleh jadi hinaan merupakan informasi penting tentang kekurangan dirinya. Kekurangan itulah yang selama ini sedang ia upayakan untuk direduksi (dikurangi) dengan penuh kesungguhan.
Oleh karena itu, ia membela diri, hanya apabila ikhtiar kebajikannya terganggu. Sebagai contoh, apabila ada orang yang menghina tindakannya ketika membantu anak yatim, maka ia akan membela diri. Ia akan menjelaskan bahwa membantu anak yatim merupakan tindakan yang penting dan perlu.
Penggemar kebajikan ini juga sanggup membela diri secara fisik, jika ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Ia telah mempersiapkan diri dengan berlatih secukupnya dalam hal bela diri. Ia menjaga kesehatannya, agar dapat selalu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan terus menerus melakukan kebajikan pada sesama manusia sesuai kemampuannya.
Ia ingin dirinya dinilai baik oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga ingin agar hidupnya bermakna bagi orang lain. Ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kebajikan bagi sesama manusia menjadi instrumen interaksi dirinya. Tuhan Yang Maha Esa merupakan Dzat yang penting bagi dirinya, karena merupakan tujuan segenap ibadah dan kebajikannya. Sesama manusia merupakan sahabat yang penting bagi dirinya, terutama sebagai ”tempat” berbagi dalam suka dan duka.
Sabtu, 14 Agustus 2010
JANGAN MERUSAK DIRI
Merusak diri, adalah suatu kondisi di mana seseorang berupaya menggagalkan kesuksesan atau kemenangan dirinya atas segenap dinamika sosial yang dihadapinya.
Agar berhasil merusak dirinya sendiri, seseorang biasanya mengawali dengan merusak kesehatannya, yang kemudian dilanjutkan dengan merusak mindset atau pola pikirnya. Akibatnya segenap pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya akan rusak, atau jauh dari kebajikan.
Rabu, 11 Agustus 2010
JANGAN MENIPU DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN
Menipu diri sendiri dan orang lain, adalah suatu pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain, yang mengakibatkan dirinya dan orang lain percaya pada sesuatu yang tidak benar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu diri dan orang lain, yaitu dengan memperhatikan konsepsi tentang percaya (believe) dan benar (true). Percaya, adalah suatu kondisi di mana seseorang berpikir bahwa sesuatu itu benar. Sementara itu, benar adalah sesuatu yang real, sungguh-sungguh ada, dan tidak salah yang berdasarkan fakta dan bukan khayalan.
Upaya menghindari menipu diri sendiri dan orang lain merupakan sesuatu yang penting, karena kemampuannya ini bukan saja akan berdampak bagi diri pelakunya sendiri, melainkan juga akan berdampak bagi orang lain (masyarakat). Penguasa yang gemar menipu diri (seolah-olah telah melakukan kebajikan dan berbuat adil), akan berkembang menjadi penguasa yang gemar menipu orang lain (rakyatnya). Penguasa seperti ini akan menjadikan fitnah sebagai instrumen profesinya, sehingga meskipun ia professional, keprofesionalannya berada dalam ranah sesat dan maksiat.
Dengan demikian “percaya” dan “benar” merupakan dua kata kunci yang penting karena berdampak luas bagi masyarakat. “Percaya” dan “benar” juga merupakan dua kata yang saling terkait dengan sangat erat, karena keduanya mempersyaratkan adanya fakta. Agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu diri, maka ia perlu menjadikan fakta sebagai prasyarat pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku. Ketika fakta menjadi pertimbangan utama dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang, maka ia akan mampu mengenali dirinya dan orang lain.
Upaya mengenali diri, akan menjadikan seseorang mampu menemukan potensi dan bakat unik yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya. Pada umumnya Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan kemampuan unik pada diri tiap manusia yang diciptakanNya. Oleh karena itu, selalu ada perbedaan kemampuan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.
Perbedaan kemampuan ini tidaklah bersifat strukturatif (atas – bawah), sehingga tidaklah benar apabila ada sebagian masyarakat yang menempatkan kemampuan tertentu pada posisi superior (kuat dan berkuasa), sedangkan kemampuan yang lain berada pada posisi inferior (lemah dan tak berkuasa). Sesungguhnya perbedaan kemampuan pada diri tiap-tiap manusia dimaksudkan agar manusia dapat saling melengkapi, dan saling memenuhi kebutuhan.
Ketika ada anjuran agar manusia mengenali potensi dirinya, sebagian manusia menganggap anjuran itu kuno atau klise. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian, karena adakalanya hingga tua ada manusia yang tidak tahu tentang potensi, bakat dan keinginan mulianya dalam hidup di dunia. Oleh karena itu, "Kenali dirimu, karena barangsiapa yang mengenali dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya."
