Rabu, 11 Agustus 2010

JANGAN MENIPU DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN

Menipu diri sendiri dan orang lain, adalah suatu pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain, yang mengakibatkan dirinya dan orang lain percaya pada sesuatu yang tidak benar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu diri dan orang lain, yaitu dengan memperhatikan konsepsi tentang percaya (believe) dan benar (true). Percaya, adalah suatu kondisi di mana seseorang berpikir bahwa sesuatu itu benar. Sementara itu, benar adalah sesuatu yang real, sungguh-sungguh ada, dan tidak salah yang berdasarkan fakta dan bukan khayalan.


Upaya menghindari menipu diri sendiri dan orang lain merupakan sesuatu yang penting, karena kemampuannya ini bukan saja akan berdampak bagi diri pelakunya sendiri, melainkan juga akan berdampak bagi orang lain (masyarakat). Penguasa yang gemar menipu diri (seolah-olah telah melakukan kebajikan dan berbuat adil), akan berkembang menjadi penguasa yang gemar menipu orang lain (rakyatnya). Penguasa seperti ini akan menjadikan fitnah sebagai instrumen profesinya, sehingga meskipun ia professional, keprofesionalannya berada dalam ranah sesat dan maksiat.


Dengan demikian “percaya” dan “benar” merupakan dua kata kunci yang penting karena berdampak luas bagi masyarakat. “Percaya” dan “benar” juga merupakan dua kata yang saling terkait dengan sangat erat, karena keduanya mempersyaratkan adanya fakta. Agar seseorang dapat menghindarkan diri dari upaya menipu diri, maka ia perlu menjadikan fakta sebagai prasyarat pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku. Ketika fakta menjadi pertimbangan utama dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seseorang, maka ia akan mampu mengenali dirinya dan orang lain. Ada pepetah menyatakan, "The first key to success is knowing yourself" (kunci pertama untuk sukses itu dimulai dengan mengenali diri).


Upaya mengenali diri, akan menjadikan seseorang mampu menemukan potensi dan bakat unik yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya. Pada umumnya Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan kemampuan unik pada diri tiap manusia yang diciptakanNya. Oleh karena itu, selalu ada perbedaan kemampuan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.


Perbedaan kemampuan ini tidaklah bersifat strukturatif (atas – bawah), sehingga tidaklah benar apabila ada sebagian masyarakat yang menempatkan kemampuan tertentu pada posisi superior (kuat dan berkuasa), sedangkan kemampuan yang lain berada pada posisi inferior (lemah dan tak berkuasa). Sesungguhnya perbedaan kemampuan pada diri tiap-tiap manusia dimaksudkan agar manusia dapat saling melengkapi, dan saling memenuhi kebutuhan.


Ketika ada anjuran agar manusia mengenali potensi dirinya, sebagian manusia menganggap anjuran itu kuno atau klise. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian, karena adakalanya hingga tua ada manusia yang tidak tahu tentang potensi, bakat dan keinginan mulianya dalam hidup di dunia. Oleh karena itu, "Kenali dirimu, karena barangsiapa yang mengenali dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya."

8 komentar:

  1. Terima kasih atas kunjungan anda di blog saya, semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. Thx! semoga bisa terus berbagi :-)

    BalasHapus
  3. wah terima kasih atas motivasinya :)

    teruslah berbagi untuk sesama :)

    BalasHapus
  4. terima kasih sudah mengunjungi blog saya... nanti... jadi... follewers...

    BalasHapus
  5. semoga hidup yang singkat ini membawa berkah..amin..,

    BalasHapus
  6. saya jarang sekali menipu org lain,,tp menipu diri sdri...sering..misalnya dgn berbohong tentang perasaan yang sedang saya alami.

    BalasHapus
  7. kalau saya sering menipu semuanya kecuali ALLAH tidak dapat di tipu karena MAHA MELIHAT..

    BalasHapus