Minggu, 28 November 2010

Jumat, 19 November 2010

PERBAIKAN DIRI SENDIRI

Perbaikan adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, atau upaya melakukan sesuatu dengan lebih baik. Upaya ini akan muncul, hanya apabila seseorang telah memiliki kesadaran tentang pentingnya menjadi orang yang semakin baik. Sebagai contoh, seorang pelajar yang ingin melakukan perbaikan, maka sesungguhnya keinginan itu barulah muncul ketika ia telah faham tentang pentingnya menjadi lebih baik.


Agar dapat mencapai perbaikan diperlukan: Pertama, upaya untuk membangun atau memperbaiki keahlian, pengetahuan dan lain-lain. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki keahlian dan pengetahuannya. Pelajar tersebut perlu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku serius (bersungguh-sungguh) dalam mengikuti pelajaran di kelasnya, agar pengetahuannya bertambah terus. Ia juga perlu mengikuti praktikum mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah dengan sungguh-sungguh, agar ia memiliki keahlian yang semakin baik.


Kedua, upaya untuk melakukan sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu memperbaiki cara belajarnya agar ia semakin mudah menyerap pengetahuan dan keahlian. Ia perlu menjajagi beberapa cara belajar, agar ia dapat menemukan cara belajar yang cocok dengan dirinya. Banyak cara belajar yang dapat ia jajagi, seperti: belajar secara visual (melihat gambar), belajar secara audio (mendengar suara), belajar secara audio visual (mendengar suara dan melihat gambar), belajar sambil menulis, dan lain-lain.


Ketiga, upaya untuk menciptakan suatu situasi baru, yang lebih baik dari situasi sebelumnya. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menciptakan situasi baru yang lebih “cair” atau lebih nyaman, ketika ia berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya. Situasi yang lebih nyaman juga perlu diciptakan, ketika ia berinteraksi dengan guru, tutor, atau siapapun yang menjadi narasumber pengetahuannya. Dengan situasi baru yang lebih nyaman ini, maka ia akan lebih mudah menyerap pengetahuan yang bermanfaat bagi bekal kehidupannya.


Keempat, upaya untuk menemukan sesuatu yang baru, atau menjadi orang pertama yang menemukan sesuatu hal yang penting. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia perlu menemukan sesuatu yang baru pada dirinya, yaitu motivasi yang selalu diperbarui. Ia menjadi orang pertama yang mengetahui hakekat hidupnya, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan dirinya sendiri. Sebelum orang tua, guru, atau sahabat mengetahui hakekat dirinya, ia adalah orang pertama yang mengetahui hakekat dirinya sendiri. Ia mengetahui tentang visi hidupnya, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermanfaat optimal bagi lingkungannya.


Kelima, upaya melakukan sesuatu yang baru yang dirancang dan diciptakan secara baru. Sebagai contoh, bagi seorang pelajar, maka ia siap melakukan sesuatu yang baru dalam mewujudkan visinya, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermanfaat optimal bagi lingkungannya. Untuk itu ia siap mewujudkannya dalam semangat baru, dalam motivasi yang lebih kuat, dan dalam kualitas diri yang lebih siap dalam merespon dinamika sosial. Oleh karena itu, ia akan terus menerus memperbaiki rancangannya, agar terus menerus nampak sebagai rancangan yang baru, dan agar selalu siap menghadapi situasi yang selalu baru.

Selasa, 16 November 2010

BERBAGI DENGAN MASYARAKAT

Tanggal 14 Nopember 2010, Aristiono Nugroho sebagai narasumber (sekaligus motivator) Socio Motivation berbagi dengan masyarakat (dari kalangan yang heterogen) tentang motivasi, khususnya yang berkaitan dengan “Mampu Mengembangkan Diri”.


Pada kesempatan itu berhasil difahami, bahwa: Pertama, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri ada syaratnya, yaitu: memiliki rasa ingin tahu, pemikiran terbuka, dapat menerima perubahan, bersedia belajar terus menerus, dan bersedia membangun suasana yang nyaman dan aman.


Kedua, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri ada caranya, yaitu: bersedia menjadi orang yang tahu tentang sesuatu, agar bisa melakukan sesuatu, sehingga menjadi orang yang sukses. Selain itu juga diperlukan kesediaan untuk melakukan analisis kebutuhan dengan mempertimbangkan kepentingan para pihak, serta bersedia melakukan perbaikan kompetensi.


Ketiga, menjadi orang yang mampu mengembangkan diri, mengindikasikan kualitas seseorang yang bersedia berubah menjadi lebih baik. Bila gagal berubah, maka orang tersebut akan berusaha terus menerus agar berubah menjadi lebih baik. Agar berubah, maka pelajari data (valid dan reliable) yang ada secara obyektif (sesuai tujuan analisis), sehingga seseorang dapat melakukan sesuatu dengan tepat (baik, benar, dan indah). Seseorang yang yang mampu mengembangkan diri, juga mengindikasikan kualitas seseorang yang bersedia terus menerus mencari peluang, agar menjadi lebih baik.


Minggu, 07 November 2010

DIBEBANKAN PADA DIRI SENDIRI

Seseorang yang memiliki keteguhan dalam berjuang mengarungi hidup, tidak akan gentar dengan beban yang dipikulkan kepadanya. Ia justru merasa, bahwa beban yang dipikulkan itu merupakan pengakuan atas eksistensi dirinya. Ia mengerti, bahwa sebagai manusia ia memperoleh dua beban utama untuk dilaksanakan, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal bagi lingkungannya.


Agar hal-hal yang dibebankan pada diri sendiri tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka seseorang harus: Pertama, jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang lain akan percaya kepada dirinya, sehingga memudahkannya bersinergi dengan orang lain dalam melaksanakan bebannya. Kedua, profesional, karena dengan bermodalkan profesionalitas, siapapun yang memerlukannya akan merasa puas dengan yang ia kerjakan. Ketiga, inovatif, karena dengan bermodalkan inovasi ia mampu menciptakan sesuatu yang baru.


Kemampuannya dalam hal membangun kepercayaan dan sinergi dengan orang lain, serta profesionalitasnya dalam bekerja, dan kemampuannya berinovasi menjadi pengantar bagi hadirnya manfaat optimal dirinya di tengah-tengah lingkungannya. Selanjutnya kemampuan memberi manfaat optimal ini ia persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai bentuk baktinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disertai dengan kekhusuannya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Setelah seseorang memiliki sifat jujur, profesional, dan inovatif; selanjutnya ia harus berupaya sungguh-sungguh mewujudkan tanggung-jawabnya (sesuai bebannya) dengan bersikap: Pertama, meyakini bahwa beban yang ada pada dirinya, yaitu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memberi manfaat optimal bagi lingkungannya, merupakan beban yang mulia dan dapat memuliakan orang lain. Kedua, oleh karena itu, ia harus memiliki kegigihan dan mampu meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiarnya. Ketiga, sehingga ia dapat menjadi orang yang terpercaya, baik oleh Tuhan Yang Maha Esa, maupun oleh manusia.


Dengan demikian seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia dengan sungguh-sungguh untuk berlatih dan berpikir keras. Ia harus mampu mengenal diri dan potensinya, sehingga ia dapat mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya, dan menempah dirinya secara optimal. Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk mengenal situasi dan lingkungannya, sehingga ia bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal, dan sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara profesional.


Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Seseorang yang teguh dalam berjuang, hendaknya bersedia berlatih untuk mengevaluasi setiap hasil karyanya, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan, dan senantiasa meningkatkan kinerjanya.