Sabtu, 28 April 2012
LIVE BETTER
Minggu, 18 September 2011
EXPLORE, DISCOVER, AND EXCEL
Allah SWT berfirman, “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama Islam) dan tetapkan pendirianmu sebagaimana engkau diperintahkan (oleh Allah), dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (orang-orang sesat), serta katakanlah, “Aku beriman pada hal-hal yang diturunkan Allah melalui KitabNya (Al Qur’an), dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu. Tidak ada perbantahan antara kami dan kamu. Allah akan mengumpulkan kita, dan hanya kepadaNya tempat kembali” (QS.42:15).
Firman Allah SWT ini mengingatkan manusia untuk: Pertama, hidup dalam iman dan amal Islami. Kedua, mengingatkan atau menyeru orang lain (manusia lainnya) agar hidup dalam iman dan amal Islami.
Untuk menjalankan seruan Allah SWT ini, maka seorang manusia perlu melakukan ”explore, discover, and excel,” yang memiliki makna, sebagai berikut: Pertama, “explore”, artinya berupaya menemukan sesuatu yang dibutuhkan. Kedua, “discover”, artinya menemukan sesuatu yang dibutuhkan. Ketiga, “excel”, artinya menjadi lebih baik karena berhasil menemukan sesuatu yang dibutuhkan.
Dengan demikian, ”explore, discover, and excel” dapat dimaknai secara linier sebagai upaya sekuat tenaga untuk menemukan sesuatu yang dibutuhkan, agar hidup menjadi lebih baik. Dengan berbekal iman dan amal Islami, seorang manusia hendaknya mengingatkan atau menyeru orang lain, agar menerapkan iman dan amal Islami. Upaya ini ia lakukan dengan sekuat tenaga, sehingga orang lain dapat hidup lebih baik.
Ketika seorang manusia berkenan ”explore, discover, and excel” dalam rangka menjalankan firman Allah SWT dalam QS.42:15, maka saat itu ia sesungguhnya sedang menjalankan peran sebagai ”sirajan muniran”, atau pencerah bagi orang lain atau orang yang membutuhkan.
Tepatnya, ia sedang mencerahkan orang lain tentang pentingnya hidup dalam iman dan amal Islami. Hal ini bukan saja penting bagi dirinya, tetapi juga merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan oleh orang lain. Tujuan tindakan ini agar hidup dirinya dan orang lain menjadi lebih baik atau lebih bernilai, yaitu bernilai dihadapan Allah SWT dan bernilai pula di hadapan sesama manusia.
”Sirajan muniran” yang dijalankannya berbasis pada koridor aqidah, ibadah, muamallah, adab, dan akhlak; sebagai bagian dari kontribusinya dalam membangun peradaban Islam yang: Pertama, transenden, yaitu hanya mempertuhankan Allah SWT. Kedua, humanis, yaitu memposisikan manusia sesuai fitrahnya sebagai hamba Allah SWT. Ketiga, emansipatori, yaitu bebas dari kejahiliahan tradisional, modern, dan pos modern.
Allah SWT mengingatkan, ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS.3:139).
Selamat berjuang, semoga Allah SWT meridhai...
Minggu, 05 Juni 2011
MENDUKUNG DIRI SENDIRI
Banyak orang gemar mempersyaratkan dukungan orang lain, untuk mendukung pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya. Orang-orang semacam ini seringkali kecewa, ketika tidak ada seorangpun yang berkenan mendukungnya.
Oleh karena itu, kini saatnya setiap orang hanya mempersyaratkan dukungan dirinya bagi dirinya sendiri, yang diperuntukkan bagi pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku kebajikannya. Dukungan ini penting, agar setiap kebajikan yang diikhtiarkannya dapat berhasil.
Untuk mendukung diri sendiri, maka setiap orang hendaknya melakukan tahapan-tahapan, sebagai berikut: Pertama, ia bersedia tafakur, dengan memperhatikan segala sesuatu ciptaan Allah SWT. Hal ini akan mendorongnya mendukung kebajikan yang sedang diperjuangkannya sendiri, sekalipun tidak ada orang yang mendukung dirinya dalam berbuat kebajikan.
Berkaitan dengan tafakur Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan muatan yang bermanfaat bagi manusia. Dan sesuatu yang diturunkan Allah dari langit yang berupa air, lalu dengan itu dihidupkannya bumi yang kering, dan ditebarkannya di bumi bermacam-macam hewan. Dan perkisaran angin dan awan yang terkendali, yang berada di antara langit dan bumi. Semua itu merupakan tanda kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang mengerti” (QS.2:164).
Kedua, ia bersedia terus menerus berdzikir, agar memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Kondisi ini akan memudahkannya memohon segala sesuatu yang dapat memperlancar ikhtiar kebajikannya. Dengan kata lain ia dapat memiliki kekuatan dahsyat, yaitu doa yang dikabulkan Allah SWT.
Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (patuh) kepada Allah” (QS.5:55).
Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.5:55, maka ia hendaknya berkenan terus menerus berdzikir. Hal ini diperlukan, agar ia memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Selain itu juga diketahui, bahwa ia hanya dapat berharap kebajikan dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, dan orang-orang yang beriman. Kebajikan adalah pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku seorang manusia yang berkaitan dengan beribadah kepada Allah SWT, dan bermanfaat optimal bagi lingkungannya.
Ketiga, ia bersedia memperkuat iman, memperkaya ilmu, dan hidup secara ikhsan. Kondisi ini diperlukan agar ia memperoleh keamanan dan kenyamanan hidup, sehingga kemajuan dan kemampuan dapat ia nikmati. Dengan ikhtiar ini, maka sedikit demi sedikit ia dapat memperbaiki pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya.
Berdasarkan iman, ilmu, dan ikhsan, maka ia akan mengerti tentang fasilitasi yang telah dianugerahkan Allah SWT bagi seluruh ciptaanNya. Pengertian ini akan menjadi pendorong semangat baginya, untuk sukses menggapai ridha Allah SWT. Inilah wujud dukungan dirinya bagi kebajikan yang sedang diperjuangkannya.
Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...
