Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Setiap manusia memiliki harga diri, karena ia merupakan makhluk mulia yang diciptakan Allah SWT, dan dimuliakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya bersedia dan mampu menghargai diri sendiri, sebelum berharap orang lain menghargai dirinya.


Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, maka seorang manusia yang telah bersedia dan mampu menghargai diri sendiri, hendaknya bersedia dan mampu beriman kepada Allah SWT. Tanpa iman kepada Allah SWT, seorang manusia tidak akan dapat menghargai dirinya secara obyektif.


Tanpa iman kepada Allah SWT, seorang manusia tidak akan faham, bahwa ia merupakan makhluk mulia yang diciptakan Allah SWT, dan dimuliakan oleh Allah SWT. Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, juga akan sulit memuliakan manusia. Baginya kemuliaan hanyalah milik dirinya, dan bukanlah milik orang lain.


Contoh nyata keburukan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dapat dilihat pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku Pemerintah Israel terhadap Bangsa Palestina. Bagi Pemerintah Israel kemuliaan hanyalah milik Bangsa Yahudi, dan bukan milik Bangsa Palestina. Oleh karena itu, kebiadaban adalah sesuatu yang layak dilakukan oleh Bangsa Yahudi (Pemerintah Israel), demikianlah mindset Pemerintah Israel.


Satu hal yang dilupakan oleh Pemerintah Israel, adalah “kebiadaban” yang mereka perlihatkan menunjukkan level atau kelas manusia yang mereka sandang. Dengan kata lain, perilaku yang ditunjukkan Pemerintah Israel terhadap Bangsa Palestina memperlihatkan, bahwa Pemerintah Israel berada pada level manusia biadab, dan bukan berada pada level manusia beradab.


Secara berkala Pemerintah Israel melakukan serangan udara ke wilayah Gaza untuk membunuh warga Gaza. Sementara itu, masyarakat dunia diam saja ketika pada saat yang sama Gaza diblokade oleh Pemerintah Israel. Dalam seminggu ini telah tewas 20 orang warga Gaza akibat serangan udara Pemerintah Israel. Untuk wilayah Tepi Barat, Pemerintah Israel mendorong pemukiman Yahudi, dengan melakukan tekanan militer terhadap Bangsa Palestina di wilayah tersebut.


Oleh karena itu, setiap orang yang ingin menghargai diri sendiri, hendaklah ia beriman kepada Allah SWT agar ia menjadi bagian dari manusia beradab, yaitu manusia yang mampu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam tata kesopanan dan etika sebagai manusia mulia yang dimuliakan Allah SWT, dengan cara memuliakan manusia lainnya.


Untuk itu, setiap manusia yang ingin menghargai diri sendiri, hendaknya mampu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku benar atau obyektif, dengan:


Pertama, memperhatikan data secara cermat dan mengubahnya menjadi informasi.


Kedua, melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh dan merumuskan beberapa alternatif tindakan.


Ketiga, menyusun alternatif tindakan dalam suatu urutan prioritas.


Keempat, menetapkan urutan pertama dalam prioritas sebagai tindakan yang akan dilaksanakan.


Kelima, melaksanakan tindakan yang telah ditetapkan atau dipilih untuk dilaksanakan.


Sudah saatnya seorang manusia yang menghargai diri sendiri dan orang lain faham, bahwa kalau ia melakukan kesalahan, misal: tidak memuliakan orang lain, maka hal itu akan kembali pada dirinya sendiri, misal: ia dikenal sebagai pribadi yang tidak mulia. Kebaikan atau kebajikan yang dilakukannya terhadap orang lain sesungguhnya kembali pada dirinya sendiri, di mana kelak ia dikenal sebagai pribadi yang berciri kebajikan. Selain itu, seorang manusia yang menghargai diri sendiri dan orang lain wajib beryukur atas segenap rahmat Allah SWT kepadanya, bersabar dalam melakukan kebajikan, dan ikhlas, sesuai QS.112, ketika melakukan kebajikan.


Segenap ikhtiar untuk menghargai diri sendiri ini bersesuaian dengan firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, mereka itu orang-orang yang shiddiqien (benar/obyektif) dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhannya (Allah). Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Allah), mereka itulah penghuni-penghuni neraka” (QS.57:19).


Selamat berikhtiar, dan semoga Allah SWT berkenan…

Jumat, 01 Oktober 2010

MEMBANGUN HARGA DIRI

Harga diri (esteem) adalah suatu kondisi di mana seseorang menghormati dirinya sendiri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Untuk itu ia menunjukkan perilaku yang halus, lembut, dan tidak kasar, serta berupaya menunjukkan pada khalayak bahwa ia memperhatikan kesetaraan kepentingan dirinya dengan orang lain.


Ketika seseorang berupaya membangun harga dirinya, maka ada beberapa hal yang harus ia lakukan, yaitu: Pertama, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam, atau larut dalam masalah, karena kondisi ini akan menjadikan ia hidup tanpa solusi atas masalah yang dihadapi. Kedua, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam dalam kepasrahan, serta jangan pernah hanya mengharap keajaiban dan tanpa upaya, melainkan terus menerus berupaya mengatasi masalah sebagai suatu cara membuat keajaiban. Ketiga, ia harus lakukan penataan emosi dalam format sadar diri, dengan memanfaatkan potensi untuk mencari solusi.


Ketiga upaya tersebut membutuhkan kesediaannya untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, ia harus memperhatikan content, konten, atau isi, seperti: isi pengendalian diri, semangat, ketekunan, dan kemampuan memotivasi diri sendiri. Kedua, ia harus memperhatikan context, konteks, atau relevansi, seperti: berbagai situasi dan kondisi yang terkait dengan interaksi antara yang bersangkutan dengan orang lain. Ketiga, ia harus memperhatikan goal atau tujuan, seperti: pemenuhan kepentingan diri sendiri dan orang lain.


Setiap orang hendaknya bersegera membangun harga diri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Salah satu kebajikan yang dapat diraih melalui pengendalian diri adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.


Perilaku menahan amarah merupakan perilaku seseorang yang memiliki harga diri. Perilaku ini berpasangan secara relasional (sebab akibat) dengan perilaku memaafkan kesalahan orang lain. Kedua perilaku ini dapat dipandang sebagai perilaku yang bersifat parallel (sejajar), maupun linear (serial). Dalam perspektif parallel masing-masing perilaku (menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain) difahami dapat muncul bersamaan. Sedangkan dalam perspektif linear difahami, bahwa perilaku diawali oleh perilaku menahan amarah. Perilaku ini memberi kesempatan pada individu yang bersangkutan untuk memunculkan perilaku memaafkan kesalahan orang lain.


Seseorang yang memiliki harga diri akan secara sadar mengekspresikan perilaku menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Kesadaran diri sendiri ini mencakup dua hal, yaitu: kesadaran terhadap adanya proses berpikir atau metakognisi (metacognition), dan kesadaran terhadap adanya penataan emosi atau metamood.


Metakognisi dan metamood menghasilkan kesadaran individu terhadap adanya pemikiran tentang perlunya penataan emosi. Hal ini memberi pilihan bagi individu tersebut untuk melakukan penekanan emosi, yang akan menimbulkan pemberontakan; atau melakukan pembebasan emosi, yang akan menimbulkan kejenuhan.


Oleh karena penekanan dan pembebasan emosi menimbulkan efek negatif pada individu, berupa pemberontakan dan kejenuhan pada diri individu yang bersangkutan, maka dibutuhkan adanya solusi emosional berupa pengendalian emosi. Pengendalian emosi, merupakan konsepsi perilaku diri sendiri yang bersifat individual, sadar, rasional, internal, dan sukarela.


Seseorang yang mampu mengendalikan emosi memiliki karakteristik, sebagai berikut: Pertama, ia mengerti dengan sungguh-sungguh, bahwa Tuhan dapat dimohon pertolonganNya terhadap apapun situasi dan kondisi yang dialami. Kedua, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima informasi, deskripsi, atau berita apapun. Ketiga, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima pengakuan dari pihak yang telah berbuat salah atau merugikan dirinya. Keempat, ia memiliki kesabaran (dalam arti tetap gigih mencari solusi) dan dapat menahan perasaan, ketika mengetahui ada kejanggalan atau mengalami situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan.


Pengendalian emosi yang dilakukan oleh individu, akan dapat menetralisir pemberontakan dan kejenuhan diri, melalui penyikapan kebutuhan secara tepat, yaitu: ada kebutuhan emosi yang dapat dipenuhi secara proporsional karena bermanfaat; dan ada kebutuhan emosi yang tidak dapat dipenuhi, karena tidak bermanfaat. Ketika seseorang berhasil melakukan hal ini, maka ia telah mengakses jalan bagi pembangunan dirinya menjadi manusia yang memiliki harga diri.