Tampilkan postingan dengan label tenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tenang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2012

LET'S BREAK

Istilah “let’s break” memiliki banyak makna, yang antara lain dapat dimaknai sebagai “ayo pecahkan”.


Let’s break persoalan hidup yang dialami, dengan mengatasi berbagai kendala yang merintangi pencapaian tujuan hidup. Ketika tujuan hidup seorang manusia adalah menggapai ridha Allah SWT, maka persoalan hidupnya merupakan segala sesuatu yang merintangi orang tersebut dalam menggapai ridha Allah SWT.


Allah SWT berfirman, ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Apabila harta yang dimiliki mengakibatkan Allah SWT tidak meridhainya. Maka seorang manusia hendaknya segera mengevaluasi hartanya, misalnya dengan memeriksa sumber, cara mendapatkan, dan cara membelanjakan hartanya. Demikian pula dalam hal pangkat, jabatan, gelar, dan sebagainya.


Apabila persoalannya adalah banyaknya tantangan dari orang lain. Maka seorang manusia hendaknya segera mengevaluasi kemampuan komunikasinya dengan orang lain. InsyaAllah dengan kesungguhan hati dan peningkatan kemampuan, maka ia dapat memperbaiki komunikasinya dengan orang lain. Hal ini akan mengundang simpatik orang lain terhadapnya, sehingga orang tersebut menjadi segan untuk merintangi upayanya menggapai ridha Allah SWT.


Sudah saatnya setiap manusia berkomitmen let’s break, agar secara perlahan tapi sistematis persoalan yang dialami dapat diatasi. Kondisi ini akan membantu yang bersangkutan hidup lebih baik dan lebih responsif terhadap dinamika yang dialaminya.


Hingga pada akhirnya, ia berhasil menggapai ridha Allah SWT, karena berhasil melaksanakan tugas ibadahnya kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin, sebab persoalan yang merintangi telah dapat ia reduksi.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai…


Minggu, 24 April 2011

PENGORBANAN DIRI

“Pengorbanan diri” bukanlah terminologi (istilah) yang mengarah pada kejahatan. Sebaliknya, “pengorbanan diri” merupakan terminologi yang mengarah dan menginspirasi kebajikan.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang mampu menjadikan dirinya sebagai instrumen kebajikan, yaitu orang yang gemar beribadah kepada Allah SWT, dan gemar memberi manfaat optimal kepada masyarakat, atau rahmatan lil’alamiin.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang juga mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya, agar dapat melaksanakan tugas dan fungsi kemanusiaannya. Sebagai manusia, ia wajib beribadah kepada Allah SWT; dan sebagai manusia, iapun wajib berbuat kebajikan kepada sesama manusia.


Oleh karena itu, seorang manusia yang siap melakukan pengorbanan diri akan berupaya memperbaiki diri, agar ia dapat mempersembahkan sesuatu yang terbaik yang ada pada dirinya kepada Allah SWT.


Caranya: Pertama, membangun kualitas diri. Untuk itu ia akan terlebih dahulu memaknai sukses dengan tepat; agar ia dapat membangun percaya diri yang kuat; karena memiliki basis pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang memadai; sehingga ia berpeluang mengatur dan mengembangkan dirinya.


Kedua, meningkatkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya meningkatkan kontribusi kebajikannya; dengan cara memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; sehingga ia dapat mengeliminasi kekurangan, dan mengembangkan kelebihan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; agar ia dapat menjadi pribadi mandiri yang mampu berkontribusi optimal.


Ketiga, mengembangkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya mengendalikan diri; dengan tidak tidak menipu, dan tidak merusak diri sendiri dan orang lain; sehingga ia dapat membuktikan kemuliaan dirinya; melalui kebajikan optimal yang dilakukannya.


Keempat, optimalisasi kualitas diri. Untuk itu ia akan bersungguh-sungguh mengikhtiarkan nasib baiknya; dengan cara mendidik dan meningkatkan disiplin diri, serta meniadakan kesombongan yang ada pada diri; sehingga dapat meningkatkan dampak kebajikan optimalnya, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.


Kelima, ekspresi kualitas diri. Untuk itu ia akan menyembunyikan kebajikan yang pernah dilakukannya; agar semakin banyak orang yang tidak mengetahui kontribusi kebajikannya; sehingga ia berpeluang memperoleh ridha Allah SWT; seraya tetap meningkatkan kekhusuan beribadah kepada Allah SWT, dan meningkatkan kontribusi kebajikan bagi sesama manusia.


Setelah menjadi peribadi yang siap melakukan pengorbanan diri, barulah ia layak berharap menjadi bagian dari orang-orang yang dimaksud oleh Allah SWT, dalam firmanNya:


“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…

Jumat, 01 Oktober 2010

MEMBANGUN HARGA DIRI

Harga diri (esteem) adalah suatu kondisi di mana seseorang menghormati dirinya sendiri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Untuk itu ia menunjukkan perilaku yang halus, lembut, dan tidak kasar, serta berupaya menunjukkan pada khalayak bahwa ia memperhatikan kesetaraan kepentingan dirinya dengan orang lain.


Ketika seseorang berupaya membangun harga dirinya, maka ada beberapa hal yang harus ia lakukan, yaitu: Pertama, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam, atau larut dalam masalah, karena kondisi ini akan menjadikan ia hidup tanpa solusi atas masalah yang dihadapi. Kedua, ia harus menghindarkan diri dari kondisi tenggelam dalam kepasrahan, serta jangan pernah hanya mengharap keajaiban dan tanpa upaya, melainkan terus menerus berupaya mengatasi masalah sebagai suatu cara membuat keajaiban. Ketiga, ia harus lakukan penataan emosi dalam format sadar diri, dengan memanfaatkan potensi untuk mencari solusi.


Ketiga upaya tersebut membutuhkan kesediaannya untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, ia harus memperhatikan content, konten, atau isi, seperti: isi pengendalian diri, semangat, ketekunan, dan kemampuan memotivasi diri sendiri. Kedua, ia harus memperhatikan context, konteks, atau relevansi, seperti: berbagai situasi dan kondisi yang terkait dengan interaksi antara yang bersangkutan dengan orang lain. Ketiga, ia harus memperhatikan goal atau tujuan, seperti: pemenuhan kepentingan diri sendiri dan orang lain.


Setiap orang hendaknya bersegera membangun harga diri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Salah satu kebajikan yang dapat diraih melalui pengendalian diri adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.


Perilaku menahan amarah merupakan perilaku seseorang yang memiliki harga diri. Perilaku ini berpasangan secara relasional (sebab akibat) dengan perilaku memaafkan kesalahan orang lain. Kedua perilaku ini dapat dipandang sebagai perilaku yang bersifat parallel (sejajar), maupun linear (serial). Dalam perspektif parallel masing-masing perilaku (menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain) difahami dapat muncul bersamaan. Sedangkan dalam perspektif linear difahami, bahwa perilaku diawali oleh perilaku menahan amarah. Perilaku ini memberi kesempatan pada individu yang bersangkutan untuk memunculkan perilaku memaafkan kesalahan orang lain.


Seseorang yang memiliki harga diri akan secara sadar mengekspresikan perilaku menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Kesadaran diri sendiri ini mencakup dua hal, yaitu: kesadaran terhadap adanya proses berpikir atau metakognisi (metacognition), dan kesadaran terhadap adanya penataan emosi atau metamood.


Metakognisi dan metamood menghasilkan kesadaran individu terhadap adanya pemikiran tentang perlunya penataan emosi. Hal ini memberi pilihan bagi individu tersebut untuk melakukan penekanan emosi, yang akan menimbulkan pemberontakan; atau melakukan pembebasan emosi, yang akan menimbulkan kejenuhan.


Oleh karena penekanan dan pembebasan emosi menimbulkan efek negatif pada individu, berupa pemberontakan dan kejenuhan pada diri individu yang bersangkutan, maka dibutuhkan adanya solusi emosional berupa pengendalian emosi. Pengendalian emosi, merupakan konsepsi perilaku diri sendiri yang bersifat individual, sadar, rasional, internal, dan sukarela.


Seseorang yang mampu mengendalikan emosi memiliki karakteristik, sebagai berikut: Pertama, ia mengerti dengan sungguh-sungguh, bahwa Tuhan dapat dimohon pertolonganNya terhadap apapun situasi dan kondisi yang dialami. Kedua, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima informasi, deskripsi, atau berita apapun. Ketiga, ia bersikap dan berperilaku tetap tenang, saat menerima pengakuan dari pihak yang telah berbuat salah atau merugikan dirinya. Keempat, ia memiliki kesabaran (dalam arti tetap gigih mencari solusi) dan dapat menahan perasaan, ketika mengetahui ada kejanggalan atau mengalami situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan.


Pengendalian emosi yang dilakukan oleh individu, akan dapat menetralisir pemberontakan dan kejenuhan diri, melalui penyikapan kebutuhan secara tepat, yaitu: ada kebutuhan emosi yang dapat dipenuhi secara proporsional karena bermanfaat; dan ada kebutuhan emosi yang tidak dapat dipenuhi, karena tidak bermanfaat. Ketika seseorang berhasil melakukan hal ini, maka ia telah mengakses jalan bagi pembangunan dirinya menjadi manusia yang memiliki harga diri.