Tampilkan postingan dengan label Allah SWT.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah SWT.. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

FOR BUSY PEOPLE

Istilah “for busy people” dapat dimaknai sebagai “untuk orang yang sibuk”. Tepatnya, “untuk orang yang waktunya terbatas, karena banyaknya kegiatan yang harus dilakukan, dalam waktu yang tidak lebih dari 24 jam setiap harinya.”


Pertanyaannya, “Sibuk untuk urusan apa?”. Jika jawabannya adalah, “Sibuk untuk urusan dunia!” Maka orang tersebut hidupnya sia-sia, karena ia tidak akan memperoleh bagian di akherat. Bahkan ia akan mendapat sanksi dari Allah SWT di akherat, karena abai dalam melaksanakan dua tugas utama, yaitu: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, rahmatan lil’alamiin atau bermanfaat optimal bagi lingkungan, dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.


Dengan demikian for busy people perlu kemampuan menghubungkan kesibukannya dengan dua tugas utamanya di dunia. Contoh, bila ia seorang dosen, maka: Pertama, penuhi kewajiban ibadah ritualnya, seperti: shalat, berpuasa di Bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji bila telah berkemampuan. Kedua, mengajar dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada materi pembelajarannya. Ketiga, melakukan penelitian dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada penelitiannya. Keempat, melakukan pengabdian pada masyarakat dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada pengabdiannya. Kelima, menjadikan kegiatan mengajar, meneliti, dan pengabdian pada masyarakat sebagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.


Seorang manusia yang telah melakukan dua hal penting for busy people, adalah orang yang telah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, rahmatan lil’alamiin. Dua hal ini memposisikan orang tersebut sebagai orang yang menjadikan dunia sebagai tempat beraktivitas, dan akherat sebagai orientasi aktivitas.


Oleh karena itu, for busy people, dunia dan akherat tidaklah seimbang. Ia akan menyikapi dunia dan akherat secara proporsional, di mana dunia merupakan tempat dirinya melakukan aktivitas yang berorientasi akherat.


Apabila manusia berkenan melakukan hal ini, maka insyaAllah (atas perkenan Allah SWT) ia akan bahagia, karena ia berhasil menggapai ridha Allah SWT. Sesungguhnya ridha Allah SWT inilah yang menjadi tolok ukur kesuksesan manusia. Tepatnya, seorang manusia yang sukses adalah seorang manusia yang berhasil menggapai ridha Allah SWT, sehingga setelah kehidupannya di dunia, maka Allah SWT memperkenankan dirinya berkehidupan baik di akherat.


Allah SWT berfirman, ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Minggu, 18 Desember 2011

RENUNGAN: MUSLIM YANG TOLERAN

Dalam beberapa hari ini, sebagian masyarakat Indonesia dan dunia yang beragama Nasrani (Katholik, Protestan, dan yang semacamnya) akan merayakan Hari Raya yang mereka sebut “Natal”. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya bersikap toleran atas perayaan yang diselenggarakan oleh Kaum Nasrani.


Toleransi diberikan oleh seorang muslim, bukan karena ia tidak mengetahui tentang Agama Nasrani dan perbedaannya dengan Agama Islam. Sebaliknya, seorang muslim toleran justru karena ia mengerti tentang Agama Nasrani dan perbedaannya dengan Agama Islam. Ada dua hal utama yang menunjukkan perbedaan antara Agama Nasrani dengan Agama Islam, yaitu:


Pertama, tentang Allah. Dalam Agama Nasrani, Allah atau Tuhan Allah adalah sosok yang memiliki putra atau anak. Oleh sebab itu, ada anak Allah, yaitu Yesus atau Tuhan Yesus.


Sementara itu, dalam Agama Islam, Allah atau Allah SWT adalah Dzat yang tidak memiliki anak. Oleh sebab itu, bagi Umat Islam, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai Tuhan Semesta Alam (alam semesta dan alam akherat), Allah SWT juga merupakan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Dengan demikian walaupun susunan hurufnya sama, maka Allah dalam Agama Nasrani, yaitu Tuhan yang mempunyai anak; berbeda dengan Allah dalam Agama Islam, yaitu Tuhan yang tidak mempunyai anak.


Kedua, tentang Yesus dan Isa AS. Sesungguhnya Yesus dan Isa AS adalah dua tokoh yang berbeda. Dalam Agama Nasrani, Yesus adalah Tuhan, maka sering disebut Tuhan Yesus; dalam agama ini juga diyakini bahwa Yesus adalah anak Allah, atau anak Tuhan.


Sementara itu, dalam Agama Islam, Isa AS adalah seorang Rasulullah (utusan Allah SWT). Dengan demikian, bagi Umat Islam, Isa AS bukanlah Tuhan, melainkan hanya seorang utusan Tuhan.


Dengan demikian Yesus dalam Agama Nasrani, yaitu anak Tuhan Allah (Tuhan yang mempunyai anak); berbeda dengan Isa AS dalam Agama Islam, yaitu utusan Allah SWT (Tuhan yang tidak mempunyai anak).


Meskipun masih banyak perbedaan yang lain, tetapi dua perbedaan utama ini cukuplah menjadi pembeda antara Agama Nasrani dengan Agama Islam. Kedua perbedaan ini menunjukkan, bahwa Umat Islam dan Umat Nasrani memiliki Tuhan yang berbeda.


Perbedaan ini bukan karena adanya banyak Tuhan bagi manusia, melainkan karena adanya perbedaan paradigma Ketuhanan yang dianut oleh Umat Islam dan Umat Nasrani. Oleh sebab itu, Allah SWT memandu Umat Islam melalui Al Qur’an dengan firmanNya, “Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS.112:1-4).


Allah SWT mengajarkan, “Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS.109:1-6).


Dalam Agama Islam diajarkan, bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia, maka janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim (lihat QS.2:132). Meskipun sesungguhnya pula tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam, karena sudah jelas jalan yang benar dengan yang salah (lihat QS.2:256).


Agama yang diridhai oleh Allah SWT hanyalah Islam (lihat QS.3:19). Oleh karena itu sangat mengherankan jika ada manusia mencari agama selain Islam (lihat QS.3:83). Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima agamanya itu (lihat QS.3:85).


Allah SWT telah mencukupkan nikmatnya pada manusia, melalui ridhanya terhadap Agama Islam (lihat QS.5:3). Oleh karena itu perlu disiapkan sebagian anggota masyarakat yang akan mempelajari Islam (lihat QS.9:122). Sehingga umat manusia dapat menghadapkan dirinya dengan lurus kepada Islam, yang merupakan agama fitrah – sesuai sifat asasi/dasar manusia – yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia (lihat QS.30:30). Ketahuilah hanya agama yang suci – yaitu bebas dari mempertuhankan selain Allah SWT – yang diridhai oleh Allah SWT (lihat QS.39:3).


Allah SWT mengingatkan, bahwa kebenaran itu dari Allah SWT (lihat QS.2:147 dan QS.18:29). Kalau kebenaran itu berdasarkan kebenaran manusia, maka terjadilah kekacauan di alam semesta (lihat QS.23:71). Oleh karena itu bila kebenaran telah datang, maka ketidak-benaran akan sirna (lihat QS.34:49).


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan kebenaran (lihat QS.35:24). Namun demikian ada saja manusia yang mendustakan kebenaran Allah SWT yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW (lihat QS.50:5).


Renungkanlah... dan jadilah muslim yang toleran (perhatikan QS.109:1-6).

Minggu, 03 Juli 2011

INVENT THE FUTURE

Kata “invent” mengandung makna “merancang atau menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya”. Dengan demikian “invent” berkaitan dengan sesuatu yang baru. Sementara itu, kata “future” mengandung makna “sesuatu yang akan terjadi pada seseorang atau sesuatu di masa yang akan datang. Dengan demikian ”future” berkaitan dengan masa depan.


”Invent” merupakan kata dasar dari ”invention”, yang bermakna ”sesuatu yang dirancang atau diciptakan pertama kali” yang berarti ”penemuan”. Oleh karena itu, ”invent” juga dapat dimaknai sebagai ”menemukan”. Dengan demikian ”invent the future” dapat diartikan sebagai ”menemukan masa depan”.


Sesungguhnya masa depan seorang manusia, sudah jelas, yaitu ridha Allah SWT. Tetapi masa depan ini barulah dapat diperoleh, bila seorang manusia berkenan memenuhi syarat dan ketentuannya.


Syaratnya, seorang manusia haruslah mengisi hidup dengan aktivitas ibadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil’alamiin (bermanfaat optimal bagi lingkungan). Ketentuan yang harus dipenuhi tertuang dalam Al Qur’an, dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam Al Hadist, dan dinasehatkan oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, seorang manusia harus hidup sesuai dengan nilai-nilai yang tertuang dalam Al Qur’an, Al Hadist, dan nasehat mayoritas ulama.


Ada contoh, sebagai berikut: Seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW, yaitu Abu Hurairah RA, menjelaskan: ”Ahli suffah adalah para tamu kaum muslimin. Mereka tidak tinggal bersama keluarga, dan tidak memiliki harta. Jika Rasulullah Muhammad SAW mendapatkan sedekah, maka beliau mengirimkannya kepada ahli suffah. Jika Rasulullah Muhammad SAW menerima hadiah, maka beliau mengirimkan sebagian hadiah itu kepada ahli suffah.”


Ahli suffah adalah orang-orang yang tinggal di salah satu bagian masjid di masa Rasulullah Muhammad SAW, yang mengkhususkan diri mempelajari nilai-nilai Islam. Selanjutnya mereka (ahli suffah) akan menyebarkan nilai-nilai Islam ini ke wilayah-wilayah lain.


Sesungguhnya banyak perilaku teladan Rasulullah Muhammad SAW yang dapat dicontoh oleh setiap manusia. Dalam kisah yang diriwayatkan Abu Hurairah RA diuraikan perilaku Rasulullah Muhammad SAW terhadap ahli suffah, yang perilaku ini juga dapat dicontoh oleh setiap manusia.


Pada prinsipnya, setiap manusia dapat menemukan masa depannya, yaitu ridha Allah SWT, sepanjang ia berkenan: Pertama, mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Semesta Alam, dan tiada Tuhan selain Allah SWT. Kedua, beribadah kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ketiga, berupaya rahmatan lil’alamiin.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...

Minggu, 24 April 2011

PENGORBANAN DIRI

“Pengorbanan diri” bukanlah terminologi (istilah) yang mengarah pada kejahatan. Sebaliknya, “pengorbanan diri” merupakan terminologi yang mengarah dan menginspirasi kebajikan.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang mampu menjadikan dirinya sebagai instrumen kebajikan, yaitu orang yang gemar beribadah kepada Allah SWT, dan gemar memberi manfaat optimal kepada masyarakat, atau rahmatan lil’alamiin.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang juga mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya, agar dapat melaksanakan tugas dan fungsi kemanusiaannya. Sebagai manusia, ia wajib beribadah kepada Allah SWT; dan sebagai manusia, iapun wajib berbuat kebajikan kepada sesama manusia.


Oleh karena itu, seorang manusia yang siap melakukan pengorbanan diri akan berupaya memperbaiki diri, agar ia dapat mempersembahkan sesuatu yang terbaik yang ada pada dirinya kepada Allah SWT.


Caranya: Pertama, membangun kualitas diri. Untuk itu ia akan terlebih dahulu memaknai sukses dengan tepat; agar ia dapat membangun percaya diri yang kuat; karena memiliki basis pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang memadai; sehingga ia berpeluang mengatur dan mengembangkan dirinya.


Kedua, meningkatkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya meningkatkan kontribusi kebajikannya; dengan cara memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; sehingga ia dapat mengeliminasi kekurangan, dan mengembangkan kelebihan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; agar ia dapat menjadi pribadi mandiri yang mampu berkontribusi optimal.


Ketiga, mengembangkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya mengendalikan diri; dengan tidak tidak menipu, dan tidak merusak diri sendiri dan orang lain; sehingga ia dapat membuktikan kemuliaan dirinya; melalui kebajikan optimal yang dilakukannya.


Keempat, optimalisasi kualitas diri. Untuk itu ia akan bersungguh-sungguh mengikhtiarkan nasib baiknya; dengan cara mendidik dan meningkatkan disiplin diri, serta meniadakan kesombongan yang ada pada diri; sehingga dapat meningkatkan dampak kebajikan optimalnya, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.


Kelima, ekspresi kualitas diri. Untuk itu ia akan menyembunyikan kebajikan yang pernah dilakukannya; agar semakin banyak orang yang tidak mengetahui kontribusi kebajikannya; sehingga ia berpeluang memperoleh ridha Allah SWT; seraya tetap meningkatkan kekhusuan beribadah kepada Allah SWT, dan meningkatkan kontribusi kebajikan bagi sesama manusia.


Setelah menjadi peribadi yang siap melakukan pengorbanan diri, barulah ia layak berharap menjadi bagian dari orang-orang yang dimaksud oleh Allah SWT, dalam firmanNya:


“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 23 Januari 2011

MENGABAIKAN DIRI SENDIRI

“Mengabaikan” adalah suatu kondisi di mana seseorang tidak cukup memberi kepedulian (care) atau perhatian (attention) pada sesuatu. Dengan demikian “mengabaikan diri sendiri”, berarti suatu kondisi di mana seseorang tidak cukup memberi kepedulian atau perhatian pada diri sendiri.


Seseorang yang mengabaikan diri sendiri seringkali tidak bersedia mengakui potensi yang ada pada dirinya. Ia terprovokasi oleh pendapat orang lain tentang citra negatif dirinya. Ia berkeyakinan, bahwa dirinya tidak akan mampu mengerjakan sesuatu.


Ia tidak percaya dengan firman Allah SWT yang menyatakan, bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam kondisi yang paling sempurna, bila dibandingkan ciptaan Allah SWT lainnya.


Oleh karena itu, ia tidak mengetahui, bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, ia dibekali oleh sekian banyak potensi, yang jika ia latih dan kembangkan akan menjadi sekian banyak kemampuan.


Kemampuan inilah yang dapat digunakan oleh manusia untuk berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku tertentu sesuai dengan visi dan misinya di dunia (alam semesta). Seorang manusia yang memiliki kemampuan akan menyadari, bahwa visinya adalah “menggapai ridha Allah SWT”.


Untuk menggapai ridha Allah SWT, maka ia harus menyusun misi, yang berupa berbagai kegiatan utama, seperti beribadah kepada Allah SWT dan memberi manfaat optimal bagi lingkungannya.


Dengan demikian, tidak selayaknya seorang manusia mengabaikan dirinya sendiri. Tidak selayaknya seorang manusia membiarkan dirinya hidup dalam kesia-siaan, dengan tidak beribadah kepada Allah SWT, dan tidak memberi manfaat optimal bagi lingkungannya.


Sesungguhnya orang-orang yang hidup dalam kesia-siaan adalah orang-orang yang merugi. Hal ini dikarenakan ia gagal menjalankan visi dan misinya sebagai manusia.


Allah SWT menyebut orang-orang yang hidup dalam kesia-siaan ini sebagai “lebih rendah dari hewan ternak”. Sebagaimana diketahui, hewan ternak bermanfaat bagi lingkungannya, sedangkan orang-orang yang hidup dalam kesia-siaan tidak bermanfaat bagi lingkungannya.


Sudah saatnya setiap manusia mempedulikan dan memperhatikan dirinya, agar ia tidak tergolong sebagai orang yang gemar mengabaikan diri sendiri. Sudah saatnya setiap manusia mempedulikan dan memperhatikan persiapan dirinya ketika ia mati (tidak lagi hidup di dunia). Sudah saatnya ia bersungguh-sungguh menggapai ridha Allah SWT.


Selamat berjuang, dan semoga bermanfaat.

Minggu, 16 Januari 2011

MEMPERSEMBAHKAN BUATAN ATAU KARYANYA

Ketika seseorang mempersembahkan hidupnya bagi Allah SWT dengan berupaya menggapai ridhaNya, ia akan menjadikan harta, pangkat / jabatan, dan peringkat / gelar sebagai alat untuk mendukung ibadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil’alamiin (bermanfaat optimal bagi alam semesta / lingkungan).


Untuk itu ia akan berupaya memperoleh alat (harta, pangkat / jabatan, dan peringkat / gelar) dengan cara-cara yang diperkenankan oleh Allah SWT. Selanjutnya, dengan berbekal percaya diri ia akan berupaya memperolehnya dengan melakukan sesuatu yang khas dirinya. Saat itulah, ia mempersembahkan buatan atau karyanya kepada Allah SWT.


Keinginannya mempersembahkan buatan atau karyanya memiliki alasan, sebagai berikut: Pertama, ia ingin menghasilkan atau menciptakan sesuatu. Dalam konteks menuju sukses (menggapai ridha Allah SWT), ia berupaya menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang akan meningkatkan semangat dirinya dan orang lain untuk beribadah (dalam arti luas) kepada Allah SWT.


Kedua, ia ingin membuat atau menumbuhkan semangat ”rahmatan lil’alamiin” pada dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Untuk itu ia mengikhtiarkan agar kesejahteraan masyarakat dapat terjadi atau ada di masyarakat. Ia bekerjasama dengan masyarakat dalam menciptakan peluang usaha, yang akan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.


Ketiga, ia ingin mengajak masyarakat untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, agar segenap upaya meningkatkan kesejahteraan mendapat dukungan Allah SWT. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ketika Allah SWT memberi peluang sukses (menggapai ridha Allah SWT). Bahkan ia juga ingin agar masyarakat dapat memanfaatkan peluang itu. Dengan demikian kesempatan nyata yang diperoleh tidak akan hilang tanpa kesan.


Keempat, ia ingin mengembangkan kualitas dirinya dan masyarakat agar layak mendapat peluang sukses, serta mendapat kesempatan memperoleh alat terbaik menuju sukses. Ia ingin berubah menjadi lebih maju atau lebih baik, dengan meningkatkan cakupan manfaat kehadirannya di dunia bagi orang lain dan lingkungan.


Kelima, ia memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh harta yang relatif banyak, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk membantu pembiayaan pendirian pesantren, rumah sakit, dan membiayai anak putus sekolah.


Keenam, ia memiliki keinginan yang kuat untuk menduduki pangkat / jabatan yang tinggi, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk mengambil kebijakan bijaksana (wisdom) yang dapat meringankan beban masyarakat.


Ketujuh, ia memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh peringkat / gelar akademis atau sosial yang tinggi, karena akhirnya akan digunakan di “jalan” Allah SWT, misal untuk merumuskan solusi dan membantu penyelesaian masalah yang ada di masyarakat.


Selamat berikhtiar…

Sabtu, 31 Juli 2010

MAMPU MENGENDALIKAN DIRI

Dalam beberapa hari lagi, saudara-saudara kita sebangsa dan setanah-air yang beragama Islam akan kedatangan “bulan suci”, yaitu Ramadhan. Oleh karena itu, layak kiranya kita mengucapkan, “Selamat menunaikan Ibadah Puasa, semoga Allah SWT berkenan menerimanya sebagai bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.”


Dalam perspektif Socio Motivation, pelaksanaan Ibadah Puasa oleh Umat Islam merupakan bentuk latihan yang dilakukan oleh seseorang dalam mengendalikan diri, agar ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi; selain kepekaan ruhani, yaitu berbakti kepada Allah SWT. Dengan kepekaan sosial yang tinggi, maka ia dapat membangun motivasi yang mampu merespon dinamika sosial.


Seseorang dikatakan mampu mengendalikan diri, apabila ia memiliki kekuatan dan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh diri sendiri, yang bersumber dari nilai-nilai agama yang dianutnya (misal: nilai-nilai Islam). Dengan demikian ia dapat berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan visi, misi, dan tujuan hidupnya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada dua hal penting dalam mengendalikan diri, yaitu kekuatan (power), dan aturan (rule).


Kekuatan yang dimaksud dalam hal ini adalah kekuatan yang ada pada diri sendiri, yaitu kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut. Demikian pula dengan aturan, yaitu aturan yang ditetapkan oleh diri sendiri dan dipatuhi pula oleh diri sendiri, sehingga dapat mendukung munculnya kekuatan pemikiran, kekuatan sikap, kekuatan tindakan, dan kekuatan perilaku yang ada pada orang tersebut.


Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan (power to control), serta memiliki aturan untuk mengendalikan (rule to control). Bagi orang ini, kekuatan dan aturan adalah dua instrumen pribadi miliknya, yang ia gunakan untuk mengendalikan dirinya.


Kekuatan yang ada pada dirinya digunakan untuk memampukan dirinya dalam membangkitkan energi diri, yang akan mempengaruhi dan membentuknya menjadi orang yang terkendali. Demikian pula halnya dengan aturan yang ditetapkan dan dipatuhi oleh dirinya sendiri.


Baginya, aturan tersebut merupakan beberapa prinsip yang menjadi pegangan hidup. Aturan tersebut berisi instruksi pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku, yang akan memimpinnya agar hidup dalam cara-cara yang biasa, namun mampu memberikan hasil yang luar biasa. Hasil tersebut berupa kebajikan yang mampu membahagiakan manusia, dan menjadikan Tuhan (Allah SWT) berkenan memberi nilai positif padanya atas segenap proses yang dilalui.


Orang yang mampu mengendalikan diri mengerti, bahwa Tuhan melarang manusia mengabaikan akalnya. Seharusnya manusia memanfaatkan dan mengembangkan akalnya, agar ia dapat memunculkan kekuatan pemikiran, yang kemudian akan mendorong munculnya kekuatan, sikap, tindakan, dan perilaku.


Tanpa kesediaan memanfaatkan dan mengembangkan akal, manusia akan sulit mengendalikan diri, karena kekuatan dan aturan yang ia tetapkan dan laksanakan sendiri membutuhkan akal dalam operasionalisasinya. Sementara itu, tanpa kemampuan mengendalikan diri, maka manusia akan hidup dalam ombang-ambing badai individual (dari diri sendiri) dan badai sosial (dari pihak lain).


Oleh karena itu, bangun terus kemampuan mengendalikan diri, serta kembangkan dan manfaatkan akal untuk menggalang kekuatan dan aturan yang mampu membahagiakan. Jadikan kemampuan mengendalikan diri sebagai pendorong munculnya pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang mampu mewujudkan kebajikan.


Bagi Umat Islam, “Selamat menunaikan Ibadah Puasa, semoga Allah SWT berkenan menerimanya sebagai bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.”