Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

FOR BUSY PEOPLE

Istilah “for busy people” dapat dimaknai sebagai “untuk orang yang sibuk”. Tepatnya, “untuk orang yang waktunya terbatas, karena banyaknya kegiatan yang harus dilakukan, dalam waktu yang tidak lebih dari 24 jam setiap harinya.”


Pertanyaannya, “Sibuk untuk urusan apa?”. Jika jawabannya adalah, “Sibuk untuk urusan dunia!” Maka orang tersebut hidupnya sia-sia, karena ia tidak akan memperoleh bagian di akherat. Bahkan ia akan mendapat sanksi dari Allah SWT di akherat, karena abai dalam melaksanakan dua tugas utama, yaitu: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, rahmatan lil’alamiin atau bermanfaat optimal bagi lingkungan, dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.


Dengan demikian for busy people perlu kemampuan menghubungkan kesibukannya dengan dua tugas utamanya di dunia. Contoh, bila ia seorang dosen, maka: Pertama, penuhi kewajiban ibadah ritualnya, seperti: shalat, berpuasa di Bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji bila telah berkemampuan. Kedua, mengajar dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada materi pembelajarannya. Ketiga, melakukan penelitian dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada penelitiannya. Keempat, melakukan pengabdian pada masyarakat dengan baik, serta memasukkan substansi kebajikan pada pengabdiannya. Kelima, menjadikan kegiatan mengajar, meneliti, dan pengabdian pada masyarakat sebagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.


Seorang manusia yang telah melakukan dua hal penting for busy people, adalah orang yang telah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Kedua, rahmatan lil’alamiin. Dua hal ini memposisikan orang tersebut sebagai orang yang menjadikan dunia sebagai tempat beraktivitas, dan akherat sebagai orientasi aktivitas.


Oleh karena itu, for busy people, dunia dan akherat tidaklah seimbang. Ia akan menyikapi dunia dan akherat secara proporsional, di mana dunia merupakan tempat dirinya melakukan aktivitas yang berorientasi akherat.


Apabila manusia berkenan melakukan hal ini, maka insyaAllah (atas perkenan Allah SWT) ia akan bahagia, karena ia berhasil menggapai ridha Allah SWT. Sesungguhnya ridha Allah SWT inilah yang menjadi tolok ukur kesuksesan manusia. Tepatnya, seorang manusia yang sukses adalah seorang manusia yang berhasil menggapai ridha Allah SWT, sehingga setelah kehidupannya di dunia, maka Allah SWT memperkenankan dirinya berkehidupan baik di akherat.


Allah SWT berfirman, ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Minggu, 23 Oktober 2011

RENUNGAN: MEMAHAMI PLURALISME

Sebagai faham dogmatis andalan Barat, liberalisme dikemas menjadi filsafat, untuk kemudian disusupkan ke berbagai ranah, yaitu: Pertama, disusupkan ke ranah politik, maka lahirlah dogma demokrasi. Kedua, disusupkan ke ranah ekonomi, maka lahirlah dogma kapitalisme. Ketiga, disusupkan ke ranah theologi, maka lahirlah dogma pluralisme. Keempat, disusupkan ke ranah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka lahirlah dogma sekularisme. Kelima, disusupkan ke ranah gerakan wanita, maka lahirlah dogma feminisme.


Sesungguhnya distribusi pluralisme di dunia bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan rancangan yang tersusun secara cermat dan sistematis dalam Protocol of Zion yang telah disiapkan oleh Yahudi Internasional sejak tahun 1897.


Perhatikanlah isi point ketiga-belas dan keempat-belas Protocol of Zion (1897). Pada point ketiga-belas dinyatakan, ”Bangsa Yahudi harus menghambat dan mematikan pemikiran yang benar, yang berhasil dirancang oleh Bangsa Non Yahudi.” Sementara itu, point keempat-belas dinyatakan, ”Bangsa Yahudi harus mengikis habis agama lain selain Agama Yahudi, agar di dunia hanya ada satu agama, yaitu Yahudi.”


Untuk dapat melaksanakan point ketiga-belas dan keempat-belas Protocol of Zion, maka terlebih dahulu semua agama harus diberi posisi theologi yang setara, setelah itu ditunjukkan perbedaan posisi sosial pengikutnya. Dengan cara ini maka Agama Yahudi akan unggul, karena meskipun setara dalam posisi theologi, tetapi para pengikut Agama Yahudi memiliki keunggulan dalam posisi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi.


Sebagai langkah awal digulirkanlah pluralisme, yang merupakan sebuah konsepsi interaksi sosial yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi antar anggota masyarakat. Berdasarkan konsepsi ini, maka masyarakat dapat hidup bersama (koeksistensi) tanpa konflik.


Pluralisme kemudian mendorong terwujudnya masyarakat yang pluralistis, di mana kekuasaan dan penentuan keputusan tersebar di anggota masyarakat. Hal ini menghasilkan partisipasi masyarakat yang lebih tersebar luas. Saat itu, pluralisme menumbuhkan pengetahuan, yang dapat menyebabkan kesejahteraan masyarakat, karena, kinerja lebih besar, dan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.


Pada saat itu, pluralisme masih diletakkan pada ranah sosial, atau dikenali sebagai pluralisme sosiologis. Saat itu, pluralisme masih dapat diterima oleh setiap manusia, termasuk oleh Umat Islam.


Persoalan muncul, ketika distribusi pluralisme di dunia memasuki tahap berikutnya, di mana pluralisme diletakkan pada ranah theologis, yaitu pada saat semua agama dianggap benar, dan semua agama dianggap mempertuhankan Tuhan yang sama.


Ketika pluralisme memasuki ranah theologis, maka ia bertentangan dengan firman Allah SWT, karena Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia. Nasehatnya adalah, janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim (lihat QS.2:132).


Dalam hal ini tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, karena sudah jelas jalan yang benar dengan yang salah (lihat QS.2:256). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah SWT hanyalah Islam (lihat QS.3:19).


Oleh karena itu sangat mengherankan jika ada manusia mencari agama selain Islam (lihat QS.3:83), karena barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima agamanya itu (lihat QS.3:85).



Sebagaimana diketahui, pluralisme adalah suatu faham keaneka-ragaman yang memasuki ranah theologi (ketuhanan), sehingga menganggap semua agama benar. Akibatnya sulit membedakan antara tuhan palsu dengan Tuhan yang sebenarnya, karena baik yang palsu maupun yang sebenarnya sama-sama diterima sebagai Tuhan.




Dengan kata lain terjadi simulacrum dalam agama, yaitu sulitnya membedakan antara yang palsu dengan yang asli. Padahal cara berpikir seperti ini bertentangan dengan agama, sebab sesungguhnya agama hanya mempertuhankan Tuhan yang sebenarnya.




Bukankah Tuhan itu Esa. Bukankah Tuhan itu tempat bergantung semua ciptaanNya. Bukankah Tuhan itu tidak memiliki anak dan tidak layak dianggap anak.
Bukankah tidak ada sesuatupun selain Tuhan yang setara dengan Tuhan (lihat QS.112:1-4).



Oleh karena itu, tidaklah sama antara agama yang mempertuhankan Tuhan (Tuhan Sebenarnya) dengan agama yang mempertuhankan tuhan (tuhan palsu). Dengan demikian pluralisme melanggar filosofi kesamaan (dasar sesuatu disebut sama).




Bukankah dalam Perspektif Perbandingan Agama setiap agama sah melakukan truth claim (pengakuan kebenaran). Oleh karena itu, masing-masing agama memiliki truth claim yang berbeda-beda, sehingga hal ini bertentangan dengan prinsip kesamaan. Dengan demikian pluralisme bertentangan dengan fakta persamaan dan perbedaan yang ada dalam ranah theologi.



Renungkanlah, dan semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 11 September 2011

CREATE THE FUTURE

Setiap manusia ingin create the future, atau menciptakan masa depan, yaitu mewujudkan suatu situasi dan kondisi yang baik bagi dirinya. Bagi seorang manusia yang cerdas, masa depan bukanlah sekedar kehidupan di dunia, masa depan juga bukan sekedar kehidupan di akherat.


Bagi manusia yang cerdas, masa depan adalah perjalanan kehidupan duniawi yang berkualitas, menuju kehidupan akherat yang berkualitas. Untuk itu ia wajib mengenal penguasa dunia dan akherat, yaitu Tuhan.


Sebagai manusia yang cerdas, ia tidak sembarangan bertuhan. Ia hanya bersedia mempertuhankan Tuhan yang sebenarnya, ia tidak akan terkecoh pada tuhan-tuhan palsu yang diciptakan manusia. Ia tidak tergiur pada tuhan-tuhan yang dipromosikan Barat dan Timur, meskipun dengan iming-iming kekayaan dan kesejahteraan versi Barat dan Timur.


Baginya Tuhan adalah Dzat yang tidak dapat disetarakan dengan sesuatu apapun di alam semesta ini, termasuk tidak dapat disetarakan dengan manusia, apalagi menganggapnya sebagai manusia, atau mempertuhankan manusia. Mempertuhankan manusia sebagai Tuhan, adalah tradisi kebodohan di masa lalu. Lihatlah tradisi Mesir di masa Fir’aun, di mana manusia (Bangsa Mesir) mempertuhankan manusia (Fir’aun).


”Hari gini masih mempertuhankan manusia? Enggak lah yaa... Karena itu kebodohan yang nyata, atau kebodohan yang terang benderang.”


Bagi seorang manusia yang cerdas, Tuhan adalah Dzat yang Esa. Tuhan adalah Dzat di mana segala sesuatu bergantung padanya. Tuhan adalah Dzat yang tidak dapat disetarakan dengan sesuatu apapun di alam semesta ini.


Dalam Al Qur’an Surat Ke-112, Allah SWT berfirman, ”Katakanlah, ”Dia-lah Allah, Yang Esa. Allah adalah Tuhan di mana segala sesuatu bergantung padaNya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS.112:1-4).


Oleh karena itu seorang manusia yang ingin create the future berupaya agar Allah SWT meridhainya. Sebagaimana Allah SWT menjelaskan, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.89:27-30, maka seorang manusia yang cerdas akan melakukan dua hal, yaitu: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Dasarnya firman Allah SWT, “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu” (QS.51:56); Kedua, memberi kontribusi optimal bagi lingkungannya dalam koridor beribadah kepada Allah SWT. Dasarnya firman Allah SWT, “Dan Kami tiada mengutusmu melainkan sebagai rahmatan lil’alamiin” (QS.21:107).


Kalau ini yang dijalankan dalam kehidupannya sehari-hari, maka inilah manusia yang cerdas, dan inilah manusia yang ingin create the future.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 24 April 2011

PENGORBANAN DIRI

“Pengorbanan diri” bukanlah terminologi (istilah) yang mengarah pada kejahatan. Sebaliknya, “pengorbanan diri” merupakan terminologi yang mengarah dan menginspirasi kebajikan.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang mampu menjadikan dirinya sebagai instrumen kebajikan, yaitu orang yang gemar beribadah kepada Allah SWT, dan gemar memberi manfaat optimal kepada masyarakat, atau rahmatan lil’alamiin.


Seorang manusia yang mampu melakukan pengorbanan diri, adalah seorang manusia yang juga mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya, agar dapat melaksanakan tugas dan fungsi kemanusiaannya. Sebagai manusia, ia wajib beribadah kepada Allah SWT; dan sebagai manusia, iapun wajib berbuat kebajikan kepada sesama manusia.


Oleh karena itu, seorang manusia yang siap melakukan pengorbanan diri akan berupaya memperbaiki diri, agar ia dapat mempersembahkan sesuatu yang terbaik yang ada pada dirinya kepada Allah SWT.


Caranya: Pertama, membangun kualitas diri. Untuk itu ia akan terlebih dahulu memaknai sukses dengan tepat; agar ia dapat membangun percaya diri yang kuat; karena memiliki basis pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang memadai; sehingga ia berpeluang mengatur dan mengembangkan dirinya.


Kedua, meningkatkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya meningkatkan kontribusi kebajikannya; dengan cara memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; sehingga ia dapat mengeliminasi kekurangan, dan mengembangkan kelebihan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; agar ia dapat menjadi pribadi mandiri yang mampu berkontribusi optimal.


Ketiga, mengembangkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya mengendalikan diri; dengan tidak tidak menipu, dan tidak merusak diri sendiri dan orang lain; sehingga ia dapat membuktikan kemuliaan dirinya; melalui kebajikan optimal yang dilakukannya.


Keempat, optimalisasi kualitas diri. Untuk itu ia akan bersungguh-sungguh mengikhtiarkan nasib baiknya; dengan cara mendidik dan meningkatkan disiplin diri, serta meniadakan kesombongan yang ada pada diri; sehingga dapat meningkatkan dampak kebajikan optimalnya, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.


Kelima, ekspresi kualitas diri. Untuk itu ia akan menyembunyikan kebajikan yang pernah dilakukannya; agar semakin banyak orang yang tidak mengetahui kontribusi kebajikannya; sehingga ia berpeluang memperoleh ridha Allah SWT; seraya tetap meningkatkan kekhusuan beribadah kepada Allah SWT, dan meningkatkan kontribusi kebajikan bagi sesama manusia.


Setelah menjadi peribadi yang siap melakukan pengorbanan diri, barulah ia layak berharap menjadi bagian dari orang-orang yang dimaksud oleh Allah SWT, dalam firmanNya:


“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30).


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai…

Minggu, 12 September 2010

MEMBANGUN DISIPLIN DIRI

Disiplin diri (self discipline) adalah suatu kondisi ketika perilaku seseorang dikendalikan secara cermat oleh orang itu sendiri, berdasarkan tata nilai yang ditetapkannya sendiri. Dalam prakteknya, disiplin diri berkaitan dengan tiga hal yang berprosesi secara berurutan. Ketiga hal tersebut adalah, sebagai berikut: (1) pengetahuan (knowledge), (2) pengendalian (control), dan (3) pengendalian diri (self control).


Agar mampu mengendalikan diri, maka seseorang harus faham tentang konsepsi pengendalian. Selanjutnya, agar faham konsepsi pengendalian, maka seseorang harus memiliki pengetahuan tentang pengendalian. Akhirnya, agar memiliki pengetahuan tentang pengendalian, maka seseorang harus bersedia belajar (learning) tentang konsepsi dan pelaksanaan pengendalian, termasuk pengendalian diri.


Agar dapat belajar tentang konsepsi dan pelaksanaan pengendalian, maka dibutuhkan kesediaan seseorang untuk: Pertama, bersungguh-sungguh menggapai keahlian atau keilmuan yang berkaitan dengan konsepsi dan praktek pengendalian. Kedua, bersungguh-sungguh mengingat berbagai hal yang berkaitan dengan konsepsi dan praktek pengendalian. Ketiga, bersungguh-sungguh memahami berbagai hal yang berkaitan dengan konsepsi dan praktek pengendalian. Keempat, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan berbagai hal yang berkaitan dengan pengendalian diri, sebagai bagian dari pelaksanaan kebajikan.


Berbekal pengetahuan, seseorang memiliki informasi dan pemahaman tentang sesuatu di dalam pikirannya. Informasi tersebut antara lain berupa tata nilai dan cara-cara berbuat kebajikan, yang menjadi target pencapaian hidupnya. Kebajikan yang ingin dicapainya meliputi segala aktivitas yang mendapat posisi mulia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan bermanfaat optimal bagi alam semesta (termasuk segenap manusia dan lingkungannya).


Informasi dan pemahaman yang dimiliki seseorang juga meliputi tentang pentingnya pengendalian. Berbekal pengendalian, seseorang menggunakan kekuatan yang ada pada dirinya atau organisasinya, untuk mengarahkan segenap aktivitasnya agar tetap berada pada jalur pencapaian tujuan. Kebajikan inilah yang menjadi salah satu pencapaian yang ingin diperoleh seseorang melalui pengendalian.


Orang tersebut selanjutnya sadar, bahwa pengendalian yang dibutuhkannya bukanlah pengendalian yang bersifat umum, melainkan pengendalian yang lebih terpusat pada dirinya. Ia harus mengendalikan dirinya sendiri, agar segenap aktivitas dirinya terkendali dengan berada pada jalur pencapaian tujuan. Hal ini terwujud, ketika ia berhasil melakukan kebajikan sebagai bagian dari pencapaian utamanya.


Dengan demikian dalam rangka membangun disiplin diri, maka seseorang harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang kebajikan dan konsepsi pengendalian, serta bersedia melakukan pengendalian diri. Oleh karena itu, seseorang yang sedang membangun diri harus:


Pertama, berupaya agar dirinya mampu menangkap hikmah dari setiap kejadian, baik yang dialaminya maupun yang diketahuinya. Kedua, berupaya agar dirinya mampu mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, dan orang-orang yang berinteraksi dengan dirinya. Ketiga, berupaya agar dirinya mampu melaksanakan kebajikan. Keempat, bersedia mempraktekkan hal-hal yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh yang secara nyata mempraktekkan kebajikan dalam hidupnya.

Jumat, 03 September 2010

MENENTUKAN NASIB SENDIRI

Tuhan Yang Maha Esa telah memberi petunjuk, bahwa Ia tidak akan merubah nasib seseorang atau suatu kelompok manusia, bila orang tersebut atau kelompok manusia tersebut tidak sungguh-sungguh berupaya mengubah nasibnya agar lebih baik, yaitu lebih mulia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan bermanfaat bagi umat manusia.


Berdasarkan petunjuk Tuhan Yang Maha Esa itu, maka dapatlah difahami bahwa sesungguhnya peluang nasib manusia tidaklah tunggal, melainkan ada sekian banyak peluang nasib manusia. Oleh karena itu, upaya manusialah yang pada akhirnya memilih salah satu peluang itu. Dengan kata lain manusialah yang menentukan nasibnya sendiri.


Ketika peluang telah dipilih oleh manusia melalui upayanya, maka Tuhan Yang Maha Esa dengan cara ketuhananNya menetapkan takdirnya. Cara ketuhanan tersebut, antara lain berupa memberhasilkan atau menggagalkan upaya manusia.


Bila upaya yang dilakukan manusia akan “menjauhkannya” dari Tuhan Yang Maha Esa, maka besar kemungkinan akan digagalkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sebaliknya, bila upaya yang dilakukan manusia akan “mendekatkannya” dengan Tuhan Yang Maha Esa, maka besar kemungkinan akan diberhasilkanNya.


Cara ini tidak berlaku, bagi manusia yang tidak mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Bagi manusia seperti ini, maka Tuhan Yang Maha Esa akan mengabaikannya. Bagi manusia yang tidak mengakui Tuhan Yang Maha Esa, telah disiapkan perhitungan tersendiri yang berisi sanksi berat dariNya.


Oleh karena itu, seorang manusia harus berupaya sungguh-sungguh agar ia dapat melakukan sesuatu yang mulia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan dapat semakin mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu ia juga harus melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi orang lain atau masyarakat.


Dengan demikian seorang manusia yang ingin mulia dan dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa serta berguna bagi orang lain atau masyarakat, harus: Pertama, melakukan determinasi (determination), yaitu upaya yang terus menerus dalam bertindak meskipun banyak menemui kesulitan dan rintangan. Determinasi dilakukan karena orang tersebut faham, bahwa tindakannya mulia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan diperlukan oleh orang lain atau masyarakat.


Kedua, faham bahwa kesulitan memang tidak selalu mudah untuk diatasi. Namun dengan berbekal keahlian dan keterampilan, maka ada peluang untuk mengatasi kesulitan tersebut. Dengan demikian selalu terbuka peluang bagi keberhasilan dalam mengatasi kesulitan.


Ketiga, berbekal keberanian, kualitas diri yang baik, dan tata nilai yang diacunya, maka segenap energi dikerahkan agar dirinya berada pada posisi sebagai manusia yang bersungguh-sungguh mengejar kemuliaan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Kesungguhan ini juga diwujudkan melalui tindakan yang diperlukan oleh orang lain atau masyarakat.


Dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa dan orang lain atau masyarakat akan mendukungnya dalam melakukan kemuliaan.