Tampilkan postingan dengan label taqwa.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taqwa.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Oktober 2011

HOPE FOR STRENGTH

“Hope for strength”, atau “berharap memiliki kekuatan” wajar dimiliki oleh setiap manusia. Dengan kata lain, setiap manusia berhak untuk berharap memiliki kekuatan.


Saat berharap (hope), seorang manusia menginginkan sesuatu terjadi. Oleh karena itu, saat hope for strength, seorang manusia menginginkan kekuatan menjadi bagian dari dirinya.


Kekuatan (strength) memiliki makna: Pertama, strong, yaitu seseorang yang memiliki kekuatan dalam arti fisik. Kedua, influence, yaitu seseorang yang memiliki daya (kekuatan non fisik) untuk mempengaruhi. Ketiga, being brave, yaitu seseorang yang menjadi berani untuk melakukan sesuatu. Keempat, good qualities, yaitu seseorang yang mampu menjadikan sesuatu lebih baik, lebih efektif, lebih efisien, atau lebih indah. Kelima, value, yaitu seseorang yang menjadikan sesuatu lebih bernilai dari sebelumnya.


Saat berhasil membebaskan Kota Mekah dari kekuasaan Kaum Kafir Quraisy, Rasulullah Muhammad SAW menyatakan, ”Wahai segenap manusia. Sebarkanlah perdamaian (salam), berilah makanan, pererat hubungan sosial (silaturahim), dan shalatlah pada malam hari, saat seluruh manusia sedang terlelap. Jika melakukan itu, maka kalian akan memasuki surga dengan selamat.”


Pesan Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan, bahwa hope for strength akan tercapai, apabila seorang manusia berkenan: Pertama, berdamai, baik berdamai dengan diri sendiri maupun orang lain, sepanjang berada dalam koridor nilai-nilai Islam. Kedua, membantu orang lain sesuai kemampuan, agar orang tersebut dapat beribadah kepada Allah SWT dan dapat rahmatan lil’alamiin. Ketiga, mempererat hubungan sosial di jalan dakwah dan dalam rangka dakwah. Keempat, shalat malam hari atau shalat tahajud sebagai sarana lebih mendekatkkan diri kepada Allah SWT selain shalat lima waktu.


Ketika seorang manusia berkenan menjalankan pesan Rasulullah Muhammad SAW hingga Allah SWT ridha kepadanya, maka insyaAllah ia akan memasuki surga dengan selamat. Saat itulah, hope for strength menjadi kenyataan.


Allah s.w.t. telah mengajarkan, “…Barangsiapa yang memuliakan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya adalah dari ketaqwaan hati” (QS.22:32).


Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.22:32 maka diketahui, bahwa sepanjang hope for strength yang ada pada diri seorang manusia adalah dalam rangka memuliakan syiar-syiar Allah SWT, maka ia akan tergolong sebagai orang yang bertaqwa.


Dengan berbekal ketaqwaan, seorang manusia akan dengan penuh semangat berikhtiar untuk berdamai, membantu orang lain, mempererat hubungan sosial, dan shalat malam. Tujuannya hanya satu, yaitu beribadah kepada Allah SWT untuk menggapai ridhaNya.


Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai...

Minggu, 24 Juli 2011

SEEDS FOR A BETTER TOMORROW

“Siapa menabur angin, akan menuai badai,” begitu kata pepatah. “Angin” merupakan simbolisasi “benih”, sedangkan “badai” merupakan simbolisasi “hasil panen”. Prinsipnya, ada benih, ada hasil panen. Benih yang baik, akan memberi hasil panen yang baik. Apabila benih berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang Islami; maka insyaAllah akan menghasilkan masa depan yang baik di dunia dan akherat. “Seeds for a better tomorrow.”


Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang yang berbuat baik” (QS.16:128).


Taqwa merupakan suatu proses yang dijalani seorang manusia dari hari ke hari. Ia bersungguh-sungguh berupaya menggapai ridha Allah SWT dengan melaksanakan segenap perintahNya. Oleh karena itu, ia bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin. Dengan kata lain, berbekal ketaqwaannya kepada Allah SWT, maka ia mengisi hari-harinya dengan berbuat baik (dalam versi Allah SWT).


Dalam konteks ini, maka taqwa adalah benih, untuk masa depan yang lebih baik, yaitu kehidupan di dunia yang lebih baik, dan kehidupan di akherat yang lebih baik. Kehidupan di dunia yang semakin Islami, dan kehidupan di akherat yang dipenuhi oleh ridha Allah SWT.


Kondisi ini menunjukkan pentingnya hidup Islami bagi setiap manusia, caranya: Pertama, beraqidah sebersih-bersihnya, yaitu hanya mempertuhankan Allah SWT. Kedua, beribadah sesuai dengan perintah Allah SWT, dan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ketiga, berinteraksi sosial atau bermuamallah dengan banyak pihak secara baik, yaitu sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ditetapkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Keempat, memperhatikan adab, etika, atau sopan santun sebagaimana yang ditetapkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dalam berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku. Kelima, mengekspresikan kebersihan aqidah, kelurusan ibadah, kebaikan muamallah, dan kesantunan adab yang terwujud sebagai suatu bentuk akhlak mulia.


Kebersihan aqidah, kelurusan ibadah, kebaikan muamallah, kesantunan adab, dan akhlak mulia merupakan proses hari demi hari yang dijalani seorang manusia, agar ia mencapai derajat taqwa. Hal ini merupakan benih yang ditabur seorang manusia, agar ia memperoleh a better tomorrow (masa depan yang lebih baik).


QS.34:2 berbunyi, “Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang masuk ke dalam bumi, dan segala sesuatu yang keluar daripadanya, serta segala sesuatu yang turun dari langit, dan segala sesuatu yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.”

Selasa, 28 Juni 2011

INSPIRING MINDS

Secara bebas “inspiring minds” dapat dimaknai sebagai “pemikiran yang menginspirasi”, yaitu: Pertama, pemikiran yang mampu membuat seseorang merasa, bahwa ia menginginkan suatu kebajikan, dan dapat melakukannya. Pemikiran ini mampu membuat seseorang merasa istimewa, karena telah merespon dinamika kehidupan dengan sikap dan tindakan yang istimewa, berupa kebajikan.


Kedua, pemikiran yang mampu memberi ide pada seseorang, sehingga ia dapat menyelesaikan masalah atau tugas kehidupannya dengan baik. Pemikiran ini mampu membuat seseorang merasa sanggup melakukan sesuatu, atau menjadikan sesuatu mewujud. Pemikiran ini juga mampu membuat seseorang percaya diri atau memiliki harapan untuk menyelesaikan suatu persoalan dengan baik.


Pemikiran tidak selalu disampaikan dengan ucapan, melainkan dapat pula disampaikan dengan sikap, dan tindakan. Sikap dan tindakan yang baik menunjukkan adanya pemikiran yang baik. Seseorang yang ingin pemikirannya mampu menginspirasi kebajikan bagi orang lain, harus mengucap, bersikap, dan bertindak dalam koridor kebajikan.


Rasulullah Muhammad SAW pernah berikhtiar menjodohkan sahabatnya yang bernama Jabir, dengan putri Ziad bin Labid, yang juga sahabatnya, yang bernama Zulfah. Jabir adalah sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang ketaqwaannya tak lagi diragukan, tetapi ia miskin dan tidak tampan. Sementara itu, Zulfah seorang wanita yang shaleh, cantik, serta putri orang kaya dan terpandang.


Rasulullah Muhammad SAW berkata, “Wahai Jabir engkau orang yang bertaqwa. Derajat manusia ditentukan oleh ketaqwaan, bukan oleh kekayaan dan ketampanan. Oleh karena itu, sekarang berangkatlah engkau ke rumah Ziad bin Labid untuk melamar anaknya yang bernama Zulfah.”


Kata-kata Rasulullah Muhammad SAW telah memberi semangat pada Jabir untuk datang ke rumah Ziad bin Labid guna melamar putrinya yang bernama Zulfah. Ucapan Rasulullah Muhammad SAW mampu membuat Jabir merasa, bahwa ia sanggup melamar Zulfah. Ucapan ini mampu membuat Jabir merasa istimewa, karena ia berada pada posisi istimewa dan akan melamar seorang putri yang juga istimewa.


Ucapan Rasulullah Muhammad SAW juga mampu memberi ide pada Jabir, sehingga ia dapat menyelesaikan masalah atau tugas kehidupannya dengan baik. Ucapan ini mampu membuat Jabir merasa sanggup melamar Zulfah, atau menjadikan impiannya menikahi Zulfah mewujud. Ucapan ini juga mampu membuat Jabir percaya diri atau memiliki harapan untuk dapat mewujudkan cita-citanya menikahi Zulfah.


Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mampu menjadikan pemikirannya sebagai pemikiran yang dapat diekspresikan dalam sikap dan tindakan, yang mampu menginspirasi orang lain agar bertaqwa kepada Allah SWT.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT meridhai...

Rabu, 22 Juni 2011

JELAS DENGAN SENDIRINYA

Sesuatu disebut fakta, karena ia mampu menjelaskan dirinya sendiri. Masalah barulah muncul, ketika manusia ingin membaca penjelasan fakta. Seringkali manusia tidak mampu membaca penjelasan fakta, karena dua hal: Pertama, kelemahan sensitivitas dalam membaca fenomena. Kedua, ketiadaan instrumen dalam membaca numena.


Fenomena adalah gejala, ciri, atau sensasi yang berhasil ditangkap oleh indera manusia; sedangkan numena adalah gejala, ciri, atau sensasi yang berada diluar jangkauan indera manusia. Sementara itu, dalam fakta terdapat fenomena dan numena; sehingga manusia seringkali tidak mampu memahami suatu fakta, karena ada bagian dari fakta, yaitu numena, yang berada di luar jangkauan indera.


Oleh karena itu, suatu fakta dapat jelas dengan sendirinya, apabila manusia mampu menarik numena ke ranah jangkauan inderanya. Tetapi karena manusia tidak mampu menarik numena ke ranah jangkauan inderanya, maka manusia harus jujur mengakui, bahwa ia memiliki keterbatasan dalam memahami fakta.


Keterbatasan dalam memahami fakta inilah yang menjadi dasar bagi munculnya kebutuhan manusia terhadap firman Allah SWT. Sebagai pencipta semesta alam, maka Allah SWT merupakan Dzat yang paling berhak menjelaskan segala sesuatu tentang semesta alam.


Seorang manusia yang cerdas akan menjadikan firman Allah SWT sebagai acuan, dalam merespon dinamika alam semesta, seraya mempersiapkan segenap bekal bagi keberadaannya di alam akherat.


Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia menyadari bahwa kebenarannya bersifat relatif. Kebenaran yang bersifat mutlak adalah kebenaran versi Allah SWT, yang tertuang dalam Al Qur’an, dan dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam Al Hadist, serta telah dinasehatkan oleh mayoritas ulama.


Sesungguhnya Allah SWT telah memilihkan Agama Islam untuk manusia, maka janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim (lihat QS.2:132). Meskipun sesungguhnya pula tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam, karena sudah jelas jalan yang benar dengan yang salah (lihat QS.2:256).


Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah SWT hanyalah Islam (lihat QS.3:19). Oleh karena itu sangat mengherankan jika ada manusia mencari agama selain Islam (lihat QS.3:83). Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima agamanya itu (lihat QS.3:85).


Allah SWT telah mencukupkan nikmatnya pada manusia, melalui ridhanya terhadap agama Islam (lihat QS.5:3). Oleh karena itu perlu disiapkan sebagian anggota masyarakat yang akan mempelajari Islam (lihat QS.9:122).


Dengan demikian umat manusia dapat menghadapkan dirinya dengan lurus kepada Islam, yang merupakan agama fitrah – sesuai sifat asasi / dasar manusia – yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia (lihat QS.30:30).


Ketahuilah hanya agama yang suci – yaitu bebas dari mempertuhankan selain Allah SWT – yang diridhai oleh Allah SWT (lihat QS.39:3). Maka jangan menjadikan teman / sahabat, orang-orang yang memerangi Islam (QS.60:9).


Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya mengasah terus sensitivitasnya dalam membaca fenomena; seraya mempelajari firman Allah SWT, dan hadist Rasulullah Muhammad SAW, serta nasehat mayoritas ulama; agar dapat menangkap hal-hal yang bernuansa numena. Tindakan dan perilaku ini juga berguna dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW, dan bersegera dalam rahmatan lil’alamiin.


Selamat mencoba, semoga Allah SWT berkenan meridhai...